Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BI: Kita Tak Mau Bebani BI Rate

Dina Mirayanti Hutauruk , Jurnalis-Jum'at, 16 Agustus 2013 |17:47 WIB
BI: Kita Tak Mau Bebani BI Rate
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar mata uang Rupiah masih bertengger di atas Rp10.300 per USD, namun Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di 6,5 persen. Bank Indonesia (BI) memilih mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan moneter dan makro-prudential, ketimbang mengambil opsi menaikkan BI rate.

Deputi Gubernur BI Pery Warjiyo mengatakan, tantangan yang dihadapi ekonomi Indonesia masih cukup berat, baik dari dalam maupun luar sehingga pihaknya akan fokus menjaga stabilitas ekonomi yakni mengendalikan inflasi, mengelola neraca pembayaran dan memperkuat manajemen sektor keuangan.

"Artinya kita tidak bisa membebankan semua respons kebijakan pada suku bunga," kata Pery di ruang wartawan Gedung bI Jakarta, Jumat (16/8/2013).

Ada lima macam respons kebijakan BI yakni nilai tukar, Suku bunga, likuiditas, kredit dan pengendalian pasar keuangan. Pery mengatakan, respons kebijakan yang dilakukan sudah mulai direspons oleh perbankan, dengan mulai menaikkan suku bunga deposito, memperkuat menajemen likuiditas dan menurunkan pertumbuhan kredit.

"Jadi bank sudah merespons kebijakan BI rate yang kita lakukan, dan sedang berlanjut dan akan terus berlanjut," tuturnya.

Selain respons balik dari perbankan, BI juga sudah mulai melihat bahwa inflasi akan kembali normal sehingga tidak perlu menggunakan respons kenaikan suku bunga. Sementara untuk Rupiah, saat ini masih menunjukkan kondisi fundamentalnya, sekaligus sebagai respons untuk mengelola neraca pembayaran.

Pery mengatakan, dengan depresiasi mata uang Rupiah yang terjadi saat ini maka nilai tukar ekspor bisa lebih baik sehingga dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Dia mengatakan, BI juga telah melakukan respons kebijakan dari sisi likuiditas dengan melakukan penguatan operasi moneter agar likuiditas di pasar kuangan dapat terkelola sehingga tidak menyebabkan  tekanan pada inflasi dan untuk mendukung juga stabilitas menjaga nilai tukar rupiah.

"Kita kemarin telah menaikkan BI rate 75 basis point, kita mengintesiasi deposite valas, dan kita juga sudah mengintrodusing lelang FX swaf. Kita akan terus mengoptimalkan lagi bauran kebijakan itu dengan yang kita umumkan kemaren untuk memperkuat menagenem likuiditas sertifikat deposito BI," tambahnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement