Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

"Di Pasar Obligasi, Rupiah Jelas Tertekan"

Petrus Paulus Lelyemin , Jurnalis-Kamis, 22 Agustus 2013 |12:45 WIB
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Rupiah diperkirakan masih akan mengalami tekanan lantaran kondisi pasar keuangan global dan domestik yang belum membaik. Adapun tekanan pasar yang paling signifikan terlihat di pasar obligasi Rupiah.

Demikian disampaikan OCBC Global Treasury Research dan Strategy, Gundy Cahyadi dalam acara Market Update yang diselenggarakan OCBC NISP di Jakarta, Kamis (22/8/2013).

Menurut dia, penurunan Indeks Government Bond Price Return (IDMA) yang cukup drastis belakangan ini, adalah indikasi tekanan pasar terhadap Rupiah. Dia berharap pemerintah segera mengambil kendali penanggulangan situasi pasar akhir-akhir ini.

"Di pasar obligasi Rupiah terlihat jelas tekanan pasar. Indeks IDMA menurun ke posisi terendah beberapa bulan terakhir selama 2013," ungkap Gundy.

Sekadar informasi, setelah pada perdagangan kemarin pelemahan Rupiah sempat ditahan di kisaran Rp10.900 per USD, namun tidak adanya sentimen positif membuat Rupiah kembali melemah ke Rp11.000 per USD. Dalam perdagangan non-delivery forward (NDF) nilai tukar Rupiah terhadap negeri Paman Sam ini dibuka di level Rp11.000 per USD.

Melansir Bloomberg, yang dibuka pukul 8.10 WIB tadi, Rupiah melemah 234 poin atau 2,17 persen dengan kurs rata-rata di Rp11.009 per USD. Adapun level terendah Rupiah pagi ini, ada di kisaran Rp10.999, dan level tertinggi Rupiah di Rp11.033 per USD.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement