JAKARTA - Komisi VII DPR melarang Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro berbicara dengan wartawan usai melakukan raker.
Larangan itu dilakukan terkait dengan ditundanya jawaban dari sejumlah pertanyaan anggota dewan.
"Kami meminta etika dari semua pihak termasuk wartawan. Menteri dan stafnya tidak memberikan statement sebelum menjawab secara resmi pertanyaan dari anggota dewan," ujar Anggota Komisi VII DPR Effendi Simbolon, saat rapat dengar pendapat dengan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/2/2008).
Kontan pernyataan politisi PDIP itu disambut gemuruh para wartawan yang sudah siap-siap bertanya kepada Purnomo.
"Ini namanya memasung pers, ini melanggar Undang-Undang Pers, tahu nggak dia soal kebebasan pers?" ujar salah seorang wartawan media cetak menggerutu dan emosional.
Seolah tak peduli dengan gerutuan wartawan, Effendi Simbolon, menambahkan kalau pertanyaan anggota dewan dijawab oleh menteri kepada pers, maka rapat lanjutan yang akan dilakukan Rabu (20/2/2008) menjadi tidak berguna lagi.
"Kalau jawaban menteri sudah disampaikan ke pers, apa bedanya sama seminar, ini kan rapat legislatif," imbuh Effendi Simbolon.
Pernyataan Effendi mendapat dukungan dari sebagian besar anggota komisi VII DPR.
Menanggapi hal tersebut, Purnomo Yusgiantoro manyatakan akan mematuhi etika tersebut. Namun dia tidak berjanji tidak akan bicara soal pembatasan premium atau isu-isu lainnya yang terkait dengan pertanyaan anggota dewan bila berada di Istana.
"Begini pak, saya minta kejelasan dulu, dalam rapat kabinet kan juga dibicarakan beberapa hal, saya tidak mungkin diam kepada pers di Istana. Meskipun yang saya sampaikan terkait dengan pertanyaan DPR," ujarnya.
Meski situasi sempat memanas, akhirnya Ketua Komisi VII DPR Airlangga Hartanto memperbolehkan Purnomo berbicara soal apa saja di tempat lain. Tetapi tidak di gedung legislatif, karena terkait etika raker.
Sementara anggota komisi VII lainnya, Alvien Lie langsung mengambil mic di tengah keributan tersebut. Dia menyatakan ketidaksetujuannya dengan larangan berbicara kepada wartawan.
"Melarang wartawan bertanya sama dengan membatasi hak publik. Biar saja Pak Pur berbicara kepada pers asal pernyataannya konsisten dengan jawaban yang akan diberikan Rabu nanti, nggak perlu dibatas-batasi," imbuh Alvien yang langsung mendapat sambutan gemuruh dari para wartawan.
"Ini baru top, Alvien Lie memang reformis beneran, cerdas," ujar wartawan harian sore Novan.
Setelah itu, palu diketuk. Begitu rapat usai, Menteri ESDM Purnomo langsung ngacir tanpa mempedulikan berondongan pertanyaan wartawan.
(Rani Hardjanti)