7 Tahun Jadi Dirut PLN, Eddie Ngaku Stress

, Jurnalis
Rabu 05 Maret 2008 14:46 WIB
Share :

JAKARTA - Menjadi Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) selama tujuh tahun menyimpan sejuta suka duka. Eddie Widiono mengaku stress. Kendati strees, namun Eddie mengaku bersyukur. Karena, mendapat pengalaman yang sangat berharga.

Perasaan menjadi campur aduk, mulai dari bahagia menjadi orang nomor satu di perusahaan setrum negara hingga menahan tangis di balik jeruji penjara Mabes Polri, terkait kasus dugaan lorupsi PLTG Borang pada Mei 2006 lalu.

Berikut lanjutan wawancara khusus Eddi Widiono dengan okezone, Ade Hapsari Lestarini, pada Senin 3 Maret lalu, di ruang kerjanya, di Gedung PLN Pusat, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Bagiamana pengalaman Anda selama menjabat dirut PLN?
Problema yang dihadapi adalah tujuh tahun menjabat bukan pekerjaan yang ringan. Semakin tahun semakin berat. Untuk itu saya menyampaikan kepada siapapun yang mau jadi direksi selanjutnya kedepan kenyataan bahwa situasi yang semakin berat ini membutuhkan sesuatu kemurnian tekad untuk melakukan yang terbaik bagi PLN karena tantangan yang dihadapi semakin luar biasa.

Dahulu, waktu saya menjadi dirut, problema terbesar adalah secara finansial PLN produksi menukik rugi. Kita terancam tuntutan dari listrik swasta, dengan potensi sialnya bisa USD130-an miliar.

Lalu kita menghadapi kondisi konflik di dalam antara mereka-mereka yang ingin mempertahankan PLN dari ancaman tersebut melalui jalur hukum. Juga ada yang melihat secara pragmatis bahwa solusinya ini terletak pada plan renegoisasi.

Inginnya situasi cukup mendukung, sehingga di awal tahun saya bicara dengan Board of Director (BOD) PLN waktu itu kalau ini periode survival dan menentukan apakah PLN selamat atau tidak.
Kalau dalam enam bulan direksi tidak berhasil menunjukkan suatu indikasi PLN akan terselamatkan, maka sangat besar kemungkinan kalau direksi diganti.

Waktu itu kita berhasil menyatukan langkah sehingga satu demi satu bisa teratasi. Tapi kenaikan harga BBM di tahun 2005-2006 memicu krisis lain lagi, jadi kalau kita sempat lolos dari jurang tahun 2000, eh tahun 2004-2055 masuk jurang lagi. Itu sebabnya jurang kali ini mengenai energi primer.

Perkembangan gejolak di energi primer bisa membuat PLN menukik lagi. Kali ini saya yakin kawan-kawan saya di wilayah dan anak perusahaan sudah lebih waspada dan sedikit banyak dan punya kesiapan yang lebih baik dibanding tahun 2008 yang lalu, saya yakin PLN bisa selamat.

Stres tidak Pak?

Yah.. (berpikir lama)

Kalau mau jujur stres besar. Tapi kalau kita lihat stres itu suatu opportunity, bisa bikin kita dewasa dan lebih sempurna, maka itu harus disukuri juga. Lebih baik menghadapi kondisi yang stresfull ini sehingga kita bisa selalu siap sedia hadapin tantangan.

Memang tujuh tahun menahkodai perusahaan yang bikin stres ini membuahkan berbagai hal yang menurut saya perlu disyukuri.
Pertama adanya tekanan dari luar bikin leadership di PLN saya yakin berubah polanya. Dari yang sangat monolitik dan melihat sangat tinggi, sekarang kami sudah menjadi lebih pipih organisasinya.
Leadernya tidak ditakuti karena punya kekuasaan yang besar. Tapi karena dia harus buat keputusan-keputusan dari posisi pandangnya yang lebih luas diambil dan harus ada keuntungan bagi yang bawah.

Apa perasaan Anda ketika ditahan?

Waktu itu harusnya menangis. Kenapa Saya mendapatkan ketidakadilan dan perlakuan ini? tapi begitu saya masuk saya melihat begitu banyak orang yang bisa memanfaatkan bantuan saya maka saya jadi kuat.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya