JAKARTA - Pertumbuhan sektor properti di tahun ini akan membaik. Di mana 70 persen di antaranya menggunakan fasilitas kredit perumahan rakyat (KPR).
Â
Terbukti, hingga September 2008 hingga Desember 2008, outstanding KPR di perbankan nasional menunjukkan stagnasi di level Rp122 triliun.
Â
Hal tersebut diungkapkan analis Samuel Sekuritas Sonny John, dalam bulletin E Samuel, di Jakarta, Senin (13/4/2009).
Â
"Membaiknya penjualan properti di real sektor, biasanya akan diikuti oleh kenaikan indeks saham sektor properti," ungkapnya.
Â
Dengan yield obligasi pemerintah 10 tahun (risk free) menunjukkan tren turun, hingga saat ini masih 12,1 persen dan membaiknya likuiditas. "Kami perkirakan suku bunga KPR akan turun secara perlahan hingga akhir 2009," katanya.
Â
Dijelaskannya, selain suku bunga KPR, ada beberapa hal yang mendorong penguatan saham properti yakni mengikuti penguatan indeks saham, selain itu kepemilikan properti oleh asing hampir lebih dari 70 tahun dan ketiga, sekuritisasi KPR.
Â
Katalis positif sektor properti datang dari draft aturan kepemilikan property (high rise building) oleh asing. Dalam draft aturan yang dibuat oleh Menpera dan BPN, asing bisa memiliki secara langsung properti selama 90 tahun.
Â
Hal ini, jelasnya, akan menarik investasi asing dimana Indonesia mempunyai gross rental yield yang lebih tinggi dibanding negara Asia lainnya.
Â
"Ini berimbas positif untuk saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Ciputra Property Tbk (CTRP), dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR)," ungkapnya.
Â
Menjelang penutupan perdagangan IHSG sesi kedua, harga saham ELTY berhasil rebound Rp10 atau naik 10,42 persen ke level Rp106 per lembar, CTRA juga menguat Rp30 atau naik 7,79 persen ke level Rp415 per lembar, CTRP juga naik Rp50 atau menguat 23,81 persen (potensi auto reject) ke level Rp260 per lembar, dan LPKR malah stagnan di posisi Rp800 per lembarnya.
(Rani Hardjanti)