JAKARTA - Nilai tukar rupiah memiliki kesempatan untuk berbalik arah menjadi menguat, menyusul di Wall Street yang ditutup positif dan nampaknya akan membuat pasar saham Indonesia bergairah kembali.
"Hari ini sepertinya cenderung menguat. Karena Wall Street-nya kan positif, sementara itu indeks kita ini sudah terlalu lama turun," kata analis valas Toni Mariano saat dihubungi okezone, di Jakarta, Kamis (13/8/2009).
Selain itu, pergerakan rupiah hari ini juga masih dipengaruhi dari bagaimana hasil dari pertemuan yang dilakukan Bank Sentral Amerika. Menurutnya, rupiah akan berada dalam kisaran Rp9.925-Rp9.975 per USD.
Kendati demikian, bukan berarti rupiah dalam posisi yang aman. Pelaku pasar masih harus berhati-hati atas sentimen negatif, yakni ancaman profit taking yang masih mengintai dan kecenderungan penguatan dolar Amerika.
Sementara itu, kepala ekonom BNI Tony Prasetiantono mengungkapkan hal yang sama. Dia menambahkan, rupiah dipengaruhi oleh situasi eksternal, kuhsusnya Amerika.
Â
"Di Amerika timbul penguatan confidence, ada tanda-tanda perekonomian sedang menuju perbaikan, sehingga kurs dolar Amerika menguat. Ini ditandai dengan keberanian The Fed untuk mempertahankan Fed Rate tetap rendah," jelasnya.
Selanjutnya, dampaknya, dolar Amerika menguat dan rupiah melemah. "Saya pikir BI akan berusaha menahan agar kurs rupiah berada di level psikologis di bawah Rp10.000. Hari ini kurs rupiah akan berada di kisaran sempit Rp-9.950-Rp-9.990," tukasnya.
Sebelumnya, pada perdagangan kemarin, Rabu (12/8/2009), rupiah ditutup di level Rp9.965-Rp9.935 per USD atau melemah dibanding perdagangan sebelumnya di level Rp9.915 per USD. Lemahnya transaksi beli membuat rupiah kembali terhempas lebih dalam. Tidak adanya sentimen positif menjadi alasan.
(Rani Hardjanti)