JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan akhir pekan ini tidak mengalami pergerakan yang berarti. Rupiah masih tersungkur di atas level Rp10.100 per USD.
Rupiah pada perdagangan Jumat (28/8/2009) ditutup di level Rp10.116-Rp10.086 per USD, atau staganan dibanding perdagangan Kamis 27 Agustus di level Rp10.170-10.085 per USD.
Tidak bergeraknya nilai tukar rupiah pada sejak dua hari belakangan ini disebabkan oleh penjagaan Bank Indonesia (BI), walaupun sulit dibuktikan. Pasalnya, bank sentral mengakui adanya lonjakan permintaan dolar Amerika oleh perusahaan swasta untuk memenuhi pembayaran utang.
Sementara, menurut Valbury Securities, dolar Amerika di pasar valas merosot ke level terendah multi-week atas yen dan euro, serta commodity-link currencies melakukan rally di sesi perdagangan hari Kamis, 27 Agustus 2009 waktu setempat. Ini terjadi karena terjadinya gerak balik pada bursa saham Wall Street dan harga minyak mentah dunia kembali menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi ekonomi global.
Sebelumnya, anjloknya bursa saham China dan Eropa memicu kekhawatiran akan prospek ekonomi global ke depan, memaksa investor membeli yen sebagai mata uang yang aman dan menjual mata uang yang dikenal sebagai yang beresiko lebih tinggi di antaranya euro.
Namun dengan di sesi siang hari setelah saham-saham di Wall Street kembali menguat, memicu penguatan euro ke level tertinggi tiga pekan terhadap USD, namun pelaku pasar mengatakan rendahnya volume perdagangan merupakan penyebab bagi maraknya gerak balik.
Nilai tukar yen juga memperoleh dukungan dari laporan China bahwa sovereign wealth fund sedang menjajaki kemungkinan investasi di Jepang.
(Rani Hardjanti)