JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan diprediksi masih akan meneruskan pelemahannya. Hal ini terkait dengan permintaan (demand) atas rupiah yang umumnya meningkat pada akhir bulan.
Â
"Masih ada faktor yang memperlemah rupiah, yakni demand akhir bulan," kata analis valas Toni Mariano saat dihubungi okezone, di Jakarta, Kamis (27/8/2009).
Â
Hal ini diperparah lagi dengan harga minyak yang tengah dalam tren penguatan. Dengan demikian, menurutnya, rupiah akan berada dalam kisaran Rp10.030-10.080 per USD.
"Mudah-mudahn tidak tembus ke level Rp10.100 per USD. Tapi, kalau benar batas atasnya di Rp10.130 per USD," tukasnya.
Sebelumnya, rupiah pada perdagangan kemarin, Rabu (26/8/2009) ditutup di level Rp10.075- Rp10.125 per USD, atau melemah dibanding perdagangan Selasa 24 kemarin ditutup di level Rp9.979-Rp10.050 per USD.
Padahal, dolar Amerika terkoreksi secara umum terhadap sejumlah rival utamanya pada sesi Selasa menyusul membaiknya data ekonomi AS dan pengangkatan kembali Ben Bernanke sebagai Kepala The Fed, telah memicu minat beli investor terhadap aset-aset berisiko termasuk mata uang berimbal hasil lebih tinggi.
(Rani Hardjanti)