JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan permintaan dolar Amerika belakangan ini meningkat lebih tinggi dari biasanya. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab pelemahan rupiah.
Deputi Senior Gubernur BI Darmin Nasution menjelaskan, peningkatan itu disebabkan tingginya permintaan perusahaan utamanya perusahaan swasta, untuk pembayaran utang berdenominasi dolar Amerika. "Utang jatuh tempo swasta dalam negeri yang keluar, sehingga ya berpengaruh juga. Karena mereka pasti mencari dolar," jelas Darmin usai Salat Jumat, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (28/8/2009).
Padahal, lanjut Darmin, dolar Amerika saat ini tidak dalam tren menguat terhadap mata uang utama dunia. Dolar Amerika mengalami pelemahan terhadap euro dan yen.
Tingginya permintaan dolar Amerika itulah yang membuat rupiah di pasar spot antarbank ditransaksikan jual. Rupiah belakangan bergerak di level Rp10.000-Rp10.100 per USD, atau melemah dari pekan sebelumnya di level Rp9.800-9.900 per USD. "Sebetulnya secara umum mestinya dolar dari AS itu tidak menguat," jelas mantan Dirjen Pajak ini.
Di pasar global, dolar Amerika dalam tren melemah terhadap sejumlah rival utamanya pada sejak perdagangan Selasa pekan ini, menyusul membaiknya data ekonomi Negeri Paman Sam dan pengangkatan kembali Ben Bernanke sebagai Gubernur The Fed. Sentimen ini memicu minat beli investor terhadap aset-aset berisiko termasuk mata uang berimbal hasil lebih tinggi.
(Rani Hardjanti)