JAKARTA - Perubahan asumsi makro untuk target inflasi yang akan disesuaikan dalam APBN-P (Perubahan) 2010 dinilai tidak efektif karena dianggap tidak relevan dengan kondisi ekonomi sepanjang tahun ini.
Menurut Pengamat Ekonomi Ahmad Erani Yustika, perkiraan inflasi 2010 dari pemerintah menurut Erani sedikit di luar realitas jika diturunkan menjadi lima persen, karena menurut asumsi pasar, inflasi Indonesia tahun ini akan mencapai tujuh persen. “Perubahan asumsi makro yang dikeluarkan pemerintah tidak efektif karena tidak sesuai dengan kondisi sekarang.Perubahan asumsi makro yang tidak cocok itu untuk target inflasi,” ujar Erani, di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, untuk bulan Januari lalu, inflasi mencapai 0,84 persen, akibat harga pangan domestik yang dinilai masih mengkhawatirkan seperti gula.
“Pasokan gula dunia akan berkurang 4 juta ton, jadi tidak mungkin inflasi bisa mencapai angka lima persen,” tandasnya. Komentar Erani terkait pernyataan pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani, Jumat (19/2) lalu, menyatakan bahwa terdapat beberapa perubahan dalam asumsi APBN 2010 terkait harga minyak, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga. Erani menilai, faktor penentu yang menyebabkan asumsi perubahan makro pemerintah untuk sektor inflasi tidak realistis akan berhadapan dengan masa-masa paceklik pada bulan Juli.
“Panen kita April dan Maret. Untuk Juli kita akan menghadapi kelangkaan beras.Jadi, tidak realistis saja jika pemerintah mematok inflasi di angka lima persen,” tambahnya. Sementar itu, untuk perubahan asumsi makro nilai tukar rupiah, Erani menyambut positif.
Menurut dia,nilai tukar rupiah bisa menyentuh angka Rp9.500 sepanjang 2010 ini. Dalam konferensi pers terkait perubahan asumsi makro ekonomi di Jakarta akhir pekan lalu Sri Mulyani mengatakan bahwa perubahan asumsi makro ditetapkan untuk inflasi sebesar 5 persen dari sebelumnya 5,5 persen, nilai tukar rupiah menjadi Rp9.300-9.400 dari Rp10.000 per dolar Amerika Serikat (USD), dan suku bunga SBI tiga bulan sebesar tujuh persen dari semula 6,5 persen.
Untuk perubahan asumsi harga minyak (ICP) menjadi USD77 per barel dari sebelumnya USD65 per barel, lifting minyak 650.000 barel per hari dari semula 965.000 barel per hari dan nominal Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Rp5.981,37 triliun. “Terdapat beberapa perubahan dalam asumsi APBN 2010 yang akan segera disesuaikan dalam APBN-P 2010. Perubahan tersebut terkait harga minyak, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga,” ujar Sri Mulyani. Dia menambahkan,perubahan asumsi pada inflasi lebih disebabkan pada pernyataan-pernyataan Bank Indonesia yang menyebutkan bahwa otoritas moneter tersebut melihat risiko inflasi pada kisaran lima plus minus satu persen.
“Maka kami juga melakukan evaluasi,” ujarnya. Pada asumsi harga minyak, pemerintah menetapkan lebih tinggi karena adanya perkembangan prospek informasi terkini di masa pemulihan ekonomi yang dianggap bisa meningkatkan permintaan minyak. “Kami lihat mengenai harga komoditas ada rasionalisasi,” tambahnya. Dengan adanya perubahan asumsi makro ekonomi tersebut, kata Sri Mulyani,akan berpengaruh pada sisi penerimaan. “Sangat ada pengaruhnya, ada sekitar Rp9 triliun kalau tidak salah, dari harga minyak dan dari perubahan dari kurs itu terhadap inflasi,” paparnya.
Perubahan asumsi tersebut juga bisa menyebabkan realisasi deviasi (penyimpangan) asumsi APBN 2010 di bawah tiga persen, atau naik tipis dari deviasi APBN 2009 yang mencapai 2,9 persen. Untuk target deviasi APBN 2010 mencapai 10 persen walaupun pihaknya mengharapkan realisasi deviasi kurang dari 3 persen. “Targetnya 10 persen, tapi kami realisasi lebih kurang tiga persen dari APBN- P,” tambahnya. (Bernadette Lilia Nova)
(Candra Setya Santoso)