JAKARTA - PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (Smart) dan PT Unilever Internasional sepakat untuk memilih dua orang ahli yang berasal dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), yakni Professor Bambang Hiro dan Dokter Yanto Santosa.
Dua orang ahli tersebut bertugas untuk mendampingi dua konsultan independen yang sudah dipilih sebelumnya yakni Control Union Certification (CUC) dari Belanda dan British Standard Institute (BSI), untuk menyelesaikan polemik pemutusan kontrak crude palm oil (CPO) yang dilakukan oleh Unilever terhadap Smart, karena dituduh melakukan pengrusakan hutan oleh Green Peace.
“Mereka sudah mendapat izin dari instansi masing-masing,”kata Direktur Utama PT Smart Tbk Daud Dharsono di Jakarta, Minggu (25/4/2010).
Pemilihan kedua orang tersebut, lanjutnya, dilakukan pada pekan lalu. Kendati demikian, Daud optimis, penyelesaian hasil verifikasi oleh tim independen ini, dapat selesai pada bulan Juni sesuai dengan rencana awal.
“Kedua expert yang ditunjuk oleh Unilever tersebut, dapat menyelesaikan penyelidikan ini dalam waktu 8-12 minggu, terhitung sejak 20 April 2010. Sehingga akhir Juni sudah ada hasil,”paparnya.
Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk Sancoyo Antarikso mengatakan, pihak Unilever akan kembali mempertimbangkan keputusan pemutusan kontrk pembelian CPO kepada PT Smart, setelah melihat hasil penyelidikan yang dilakukan tim independen. Di mana hasil penelitian yang dilakukan tim independen ini, menurutnya akan usai sekitar Juni 2010.
“Kita akan kembali mempertimbangkan pemutusan kontrak tersebut setelah ada hasil dari konsultan independen, Seperti rilis kami Desember lalu, apabila kami sudah dapatkan bukti-bukti dari konsultan yang sudah ditunjuk bahwa tuduhan itu tidak berdasar dan apabila sudah diperbaiki, kami akan kembali merekonsider,''kata Sancoyo.
Sementara itu, Daud mengakui, pihaknya tidak merasa khawatir dengan mulai maraknya black campaign (kampanye gelap) terhadap CPO. Pasalnya, Daud akan berkerjasama dengan Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAKPI ) untuk mencoba mengimbangi dengan memberi pencitraan sebaliknya tentang peranan CPO di dunia.
“Kita akan gaungkan CPO itu secara tenaga kerja sangat menguntungkan karena industri ini, yang padat tenaga kerja,”jelasnya.
Daud mencontohkan, salah satu black campaign yang terjadi di Perancis. Dimana salah satu supermarket disana yakni Casino, memproklamirkan, tidak akan menjual produk yang mengandung CPO.
Daud menilai, maraknya black campaign yang terjadi terhadap CPO, adalah dalam upaya untuk meningkatkan pengunaan minyak nabati. Padahal, secara efisiensi, kata dia, CPO lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya.
“Makanya ada black campaign agar pengunaan minyak CPO berkurang dan berganti ke minyak nabati,”tukasnya.
Berdasarkan data United States Department of Agriculture Foreign Agricultural Service, konsumsi penggunaan CPO, terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008, sebesar 41,65 juta ton dan pada tahun 2009 mencapai 44,28 juta ton. (adn)
(Rani Hardjanti)