Tingkatkan Produksi, Timah Amankan Wilayah Cadangan

J Erna, Jurnalis
Rabu 08 September 2010 07:18 WIB
ilustrasi. foto: corbis
Share :

JAKARTA - PT Timah Tbk (TINS) berupaya mengamankan wilayah cadangan guna meningkatkan produksi timah seiring maraknya illegal miners (penambang-penambang liar) pada sejumlah wilayah tambang milik perseroan.

Direktur Utama Timah Wachid Usman mengatakan, naiknya harga timah saat ini memiliki dampak positif dan negatif bagi perusahaan.

"Bisa berdampak positif karena menambah pendapatan bagi perusahaan. Namun, di sisi lain, juga bisa negatif karena persaingan ketat," kata dia di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, tambang yang tidak ekonomis terpaksa harus diekonomiskan karena adanya persaingan yang tidak sehat, yang dilakukan sejumlah penambang liar untuk mengeruk keuntungan.

Oleh karena itu, dia berharap, pemerintah untuk bersikap dan menerapkan kebijakan yang tegas terhadap para penambang-penambang liar yang merugikan perusahaan komoditas lainnya.

Upaya lain yang dilakukan perseroan guna meningkatkan produksi dan kinerja keuangan, dengan meningkatkan kompetisi pertimahan dan pengembangan usaha, serta meningkatkan teknologi seperti mengganti sejumlah kapal yang sudah tua.

“Kami juga tambah kapal agar produksi laut bisa lebih tinggi dari darat. Sekarang 55 persen laut, 45 persen darat. Ke depan, kami ingin agar laut lebih tinggi karena darat sudah ada masalah dengan lingkungan,” tutur dia.

Untuk masalah di darat, dia menilai, perlu dilakukan reklamasi lahan secara berkelanjutan oleh seluruh pelaku usaha. “Ini (reklamasi lahan) harus diperhatikan pemerintah dan pelaku. Tak hanya menjaga keseimbangan produksi, tapi juga lingkungan,” imbuhnya.

Menurut dia, hal itu dilakukan untuk menjaga ketersediaan cadangan timah. Pasalnya, jika tidak ada keseimbangan antara persedian dan permintaan akan mengakibatkan harga timah jatuh.

Adapun, produksi timah hingga paruh pertama tahun ini mendekati 20 ribu metrik ton (MT). Capaian ini meningkat jika dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun lalu.

Pada semester I-2009, produksi timah perseroan sebesar 19.378 MT. Sementara itu, harga jual logam timah pada paruh pertama tahun ini senilai USD17.529/MT atau lebih tinggi 45 persen dibanding periode yang sama tahun lalu di harga USD12.087/MT.

Mengenai serapan belanja modal capital expenditure (capex) hingga paruh pertama tahun ini baru sekitar Rp400 miliar. Adapun, alokasi capex Timah hingga penghujung tahun sebesar Rp769,46 miliar.

Menurut dia, alokasi capex tersebut akan terserap seluruhnya hingga akhir tahun ini lantaran ada sejumlah investasi produktif yang dilakukan perseroan, di antaranya pembangunan lima unit kapal isap produksi (KIP) sebesar Rp175 miliar.

Kemudian modifikasi kapal keruk menjadi Bucket Wheel Dregdes (BWD) sebesar Rp140 miliar, penyelesaian proyek atau pabrik Tin Chemical Rp82,30 miliar, pengadaan kapal bor dan alat bor darat serta pembesaran kapasitas galangan kapal Rp80 miliar.

Sebelumnya, Timah sudah merilis kinerja pada semester I-2010 mengalami peningkatan. Adapun, laba bersih melonjak hingga 652,59 persen menjadi Rp322,3 miliar dari Rp42,9 miliar periode sama tahun lalu.

Sementara pendapatan perseroan selama periode tersebut hanya naik enam persen menjadi Rp3,749 triliun dari Rp3,539 triliun periode  sama tahun lalu. Naiknya kinerja keuangan tersebut ditopang naiknya harga jual logam timah pada periode tersebut.

Analis Anugerah Securindo Indah Viviet S Putri sebelumnya menilai peningkatan signifikan pada kinerja TINS didorong kemampuan manajemen, dalam melakukan efisiensi terhadap beban-beban yang dimiliki.

Kendati demikian, menurut dia, kinerja dan harga saham Tins hingga akhir tahun ini belum akan naik signifikan lantaran belum memiliki katalis kuat. “Harga saham Tins hingga akhir tahun masih berada di level Rp2.300-Rp2.600 per saham,” kata dia.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya