Walau Meningkat, Tahun Ini Omzet Usaha Parcel Turun!

Safrezi Fitra, Jurnalis
Jum'at 10 September 2010 14:31 WIB
Penjual Parcel. Foto: Safrezi Fitra/okezone
Share :

JAKARTA - Peningkatan penjualan parcel menjelang Lebaran dialami seluruh pedagang parcel. Namun jika dilihat presentasenya dari tahun ke tahun sebenarnya menurun.

Menurut Hendra, seorang pedagang parcel yang memang sehari-hari membuat dan menjual pesanan parcel mengatakan setiap tahun menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru dirinya dapat mempekerjakan puluhan pekerja karena membanjirnya pesanan. Namun jika hari-hari biasa, dia hanya dapat mempekerjakan tiga orang karyawan.

“Peningkatan pasti lah ya, kalau hari-hari biasa anak buah yang bantuin saya cuma tiga, tapi kalau kaya sekarang ini, ada 12 orang yang bantuin. Kalau enggak, keteter mas,” ujarnya, saat dijumpai okezone, belum lama ini.

Dalam tokonya, Hendra hanya menyediakan jasa membuat atau merangkai, dan menjual pernak-pernik hiasan parcel saja, sedang untuk keranjang dia membeli dari produsen keranjang yang letaknya tidak jauh dari tokonya.

Peningkatan penjualan terlihat dari banyaknya pesanan pada waktu-waktu tertentu saja.

“Ini sekarang mas liat kan penuh banget, kalau biasanya enggak mas. Biasanya dalam sehari paling pesanan parcel itu cuma lima, kadang juga tidak ada pesanan sama sekali. Tapi kalau saat ini dalam sehari saya bisa jual 20 parcel, belum lagi pesanan yang minta diantar,” katanya.

Dilihat dari omzet penjualannya, dikatakan Hendra bahwa sebenarnya tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini dialami oleh hampir seluruh pedagang parcel di Cikini. Penurunan ini terjadi dari semenjak 2009, di mana penjualan parcel turun drastis.

“Kalau tahun-tahun dulu mas, omzet kita untuk Lebaran saja saya bisa menjual lebih dari seribu parcel dalam sebulan. Tapi dari tahun kemarin udah menurun. Tahun kemarin saya bisa menjual cuma 800, sekarang sampai H minus segini baru 400,” akunya.

Senada dengan hal tersebut, Pak Badar yang merupakan pedagang parcel musiman, yang muncul pada saat menjelang Lebaran, natal dan tahun baru saja, mengatakan hal yang sama. Di mana produksinya menurun dan terlihat bahwa pembeli lebih memilih parcel dengan harga termurah. “Sekarang pahit mas,” ujar Pak Badar menegaskan.

Kisaran harga parcel yang dijualnya berkisar antara Rp200 ribu sampai Rp2 juta. “Tapi bulan ini saya belum pernah dapat orderan yang Rp2 juta itu. Malah banyakan yang dua ratus ribu,” ujarnya.

Kisaran harga yang ditetapkan pedagang parcel tersebut biasanya dilihat dari tingkat kesulitan pengerjaan, besar kecilnya parcel tersebut, “yang paling penting isinya, nah yang dua juta itu dulu saya bikin isinya kristal.”

Lain halnya dengan Hendra, Pak Badar bukan hanya menjual dan merangkai parcel saja, namun dengan tempat yang minim tersebut, dia juga memproduksi keranjang parcel dan dijual kepada para penjual parcel di daerah tersebut.

Untuk memproduksi keranjang dia mempekerjakan karyawan ahli sebanyak delapan orang, sedangkan untuk merangkai dan pemasaran sekitar tujuh orang.

Bahan baku produksi dikatakan Pak Badar didapat dari sekitar tempatnya saja. Untuk isi parcel, diakuinya bahwa para pedagang telah bekerjasama dengan swalayan yang terdapat sekitar cikini dengan harga relatif murah.

Sementara untuk hiasan parcel tersebut juga banyak dijual di toko-toko dekat daerahnya di bawah stasiun cikini. Sedangkan untuk bahan baku keranjang dia dapatkan dari daerah Klender Jakarta Timur.

“Segini mah dikit, dulu itu karyawan saya sampai 30 orang disini. Yang bikin keranjang saja bisa 15 orang,” ungkapnya.

Penurunan penjualan ini menurut Pak Badar masih ada imbas dari tahun sebelumnya. “Kalau tahun kemarin kan katanya orang-orang kerja itu enggak boleh nerima parcel ya, mungkin sekarang masih kali,” katanya.

Pada Lebaran tahun 2009 dalam satu bulan diakui Pak Badar, tokonya bisa menjual 600 parcel yang menurun dari tahun 2008 yang bisa mencapai 1.000 parcel.

“Saya rasa enggak mungkin Lebaran ini bisa sampai 600. Sampai sekarang saja saya baru menjual tiga ratusan, ini sudah tinggal berapa hari lagi, malam takbiran itu sudah tutup, sudah enggak ada yang beli lagi,” ungkapnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya