JAKARTA - Bursa menuju posisi puncak di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tinggal selangkah lagi. Kelima kandidat yang diusung akan meramaikan bursa pemilihan tersebut untuk meraih posisi Ketua Umum (Ketum) Kadin Indonesia periode 2010-2015.
Kelima kandidat yang berasal dari para pengusaha nasional ini yakni Sandiaga S Uno, Wishnu Wardhana, Chris Kanter, Suryo Bambang Sulistio, dan Adi Putra Tahir. Mereka dinyatakan siap untuk menggantikan singgasana yang sudah ditinggalkan lama pendahulunya MS Hidayat, yang kini menjadi Menteri Perindustrian.
Siapakah sebenarnya mereka? Kelima pengusaha tersebut saat ini tentunya menduduki posisi strategis di Kadin. Mereka akan dipilih pada Musyawarah Nasional (Munas) VI Kadin yang digelar di Jakarta Convention Center pada 24-25 September 2010.
Ketua Umum Kadin yang baru diharapkan dapat melanjutkan implementasi dari peta kebijakan (roadmap) Kadin Indonesia yang dirilis pada Oktober 2009. Berikut profil mereka, seperti diolah okezone, dari berbagai sumber.
1. Sandiaga Salahudin Uno.
Pria kelahiran Rumbai, Pekanbaru 28 Juni 1969 ini disebut-sebut menjadi kandidat terkuat untuk menduduki Kadin 1. Hal ini terlihat ketika ada sinyal dari Menperin yang memuji dirinya saat berkampanye beberapa waktu lalu.
Lulusan Wichita State University, Amerika Serikat ini bersama rekannya mendirikan perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Saat ini dirinya tercatat menjadi direksi beberapa perusahaan seperti di PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, dan tentunya pendiri PT saratoga Investama Sedaya.
Lelaki dua anak itu pada 2009 pernah tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut Majalah Forbes. Kesuksesannya saat ini memang tak lepas dari optimistis dan keberaniannya dalam memandang masa depan.
Pada 2005-2008, Sandi menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Dia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kadin sejak 2004.
2. Wishnu Wardhana.
Wishnu Wardhana pada 2007 sudah menempati posisi sebagai Direktur Indika. Di samping itu, dirinya juga menjadi Komisaris Tripatra sejak 2007. Pria kelahiran Samarinda itu, kini tercatat sebagai Vice President Director di perusahaan energi terbesar di Indonesia, yakni di PT Indika Energy Tbk.
Di usianya yang menginjak sekira 40 tahunan, dia telah menduduki jabatan Komisaris Kideco, PT Indika Mitra Energi dan PT Indoturbine sejak 2005. Whisnu juga menjadi Presiden Direktur PT Teladan Resources, sebuah kelompok usaha yang bergerak di bidang jasa minyak dan gas, aset sumber daya alam, dan perkebunan kelapa sawit.
Selain itu. dia juga Direktur Utama PT Indika Inti Corpindo dan PT Teladan Properties. Dirinya pun juga menjabat sebagai Presiden Komisaris di PT Indika Infrastruktur Investindo dan Komisaris Utama Teladan Prima Group.
Sebelumnya, dia pernah menjabat sebagai direktur pengelola Mahaka Group dan merupakan pemimpin yang aktif dalam pengembangan tanaman kalsium oksida 400 MTD di Freeport, Papua. Wishnu juga tercatat sebagai Wakil Ketua Kadin bidang Lembaga Keuangan Nonbank, Pasar Modal, dan Dana, yang pernah menjabat menjadi Sekjen Kadin Indonesia-Amerika Serikat (AS).
3. Chris Kanter.
Saat ini, Chris menjabat sebagai Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin bidang Investasi dan Perhubungan. Dirinya lebih terlihat bersaing dengan Suryo Sulistio dan Adi Tahir. Chris juga berpeluang kuat untuk menang dan bisa menduduki posisi Kadin 1.
Chris berpeluang menang, karena sudah lebih dari seperempat abad mengabdikan hidupnya untuk Kadin Indonesia. Dia dinilai sebagai pengusaha yang aktif. Dia pun tercatat pernah menjadi Ketua Umum Gabungan Forwarders dan Ekspedisi (Gafeksi).
Pria kelahiran Manado, 25 April 1952 ini adalah pemilik PT Unggul Cipta Trans dan juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum dalam tiga periode masa bakti. Alumnus Fakultas Teknik Mesin Universitas Trisakti itu punya pengalaman yang luas dalam memperjuangkan investasi asing bagi kalangan dunia bisnis, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
Kegigihannya menjadikan Indonesia sebagai ladang investasi terkemuka di dunia tak pernah surut. Sewaktu Indonesia diterpa gelombang krisis maupun aksi terorisme, Chris berdiri di garda depan bersama Kadin dan pemerintah, berupaya menenangkan pelaku pasar.
Hasilnya, pemodal asing masih menaruh kepercayaan tinggi dalam berinvestasi di Indonesia. Bahkan, pengusaha kelas kakap Rachmat Gobel, menjulukinya sebagai Pejuang Investasi.
4. Suryo Bambang Sulistio.
Selain aktif di Kadin, lelaki kelahiran Solo, 11 Februari 1947 ini sekarang tercatat sebagai Presiden Komisaris (Preskom) PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Lulusan Washington International University (MBA), Pennsylvania, AS ini adalah pengusaha dan pendiri Satmarindo Group. Dia juga aktif sebagai Preskom PT Giordano Indonesia.
Mantan Komisaris PT Jamsostek (Persero) dan Mantan Utusan Khusus Presiden RI (Duta Besar Keliling) untuk wilayah Amerika Utara, Tengah, dan Selatan sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Kadin.
Dia optimistis akan menang dalam pemilihan calon ketua umum Kadin, karena sudah didukung oleh pengurus Kadin daerah dan sejumlah asosiasi.
Masa karirnya pun tercatat sebagai Ketua Komite Kerja sama Ekonomi Indonesia-Taiwan 1986-1994, Direktur Eksekutif Dewan Bisnis BIMP-EAGA di Brunei Darussalam, Ketua Kadin Indonesia Komite Inggris (KIKI), Ketua Kadin Indonesia Komite Brazil(KIKBRA), Wakil Kadin Indonesia sebagai pembicara di berbagai forum internasional, serta menjadi Ketua Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Ekonomi UKM.
5. Adi Putra Darmawan Tahir.
WKU Kadin bidang Keorganisasian dan Keanggotaan Adi Putra Tahir ini ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Ketum Kadin, mengisi posisi kekosongan setelah diduduki MS Hidayat selama dua periode yakni 2004-2009 dan 2009-2014.
Adi yang kelahiran Bandung 18 Mei 1953 ini, juga tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Komisi VI dari Fraksi Golkar. Ayah tiga anak ini juga dijagokan menduduki posisi Ketum Kadin.
Dia tercatat pernah menjadi Ketua Umum Hipmi periode 1992-1996, Ketua Kadin Indonesia periode 1994-2003. Bagi dirinya, Kadin harus mendorong sektor informal jadi formal dan kelas bawah jadi menengah.
Alasannya sederhana saja, industri besar sangat membutuhkan industri hilir. Itu terlihat dari kondisi dunia bisnis di republik ini sekarang. Industri sangat tergantung pada pasokan impor karena industri hilir Indonesia tak tumbuh.