JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan investasi di sektor industri manufaktur akan mengalami peningkatan sebesar 50 persen dari realisasi investasi pada tahun ini yang ditargetkan mencapai Rp240 triliun.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim Investasi BKPM Muhammad Mahmud Azhar Lubis menjelaskan, pada tahun ini, BKPM menargetkan investasi dari sektor industri manufaktur akan naik 50 persen menjadi Rp120 triliun. Apabila target itu tercapai, kata dia, maka industri manufaktur nasional akan bertumbuh 5,2-6,1 persen.
"Peningkatan ini dikarenakan realisasi dari rencana investasi dan ekspansi yang sudah dijadwalkan perusahaan ke BKPM, seperti Hankook Co Ltd. Apalagi jika food estate di Papua udah jadi, maka investasi disektor manufaktur akan melebihi dari target," kata Mahmud di Jakarta, Senin (24/1/2011).
Mahmud mengatakan, peningkatan investasi di sektor manufaktur akan terus meningkat hingga 2013. Karena, kata dia, setiap perusahaan membutuhkan waktu minimal tiga tahun untuk merealisasikan investasinya.
Dengan meningkatnya realisasi investasi di sektor manufaktur, maka, menurut Mahmud, akan meningkatkan impor bahan baku dan barang modal terutama yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.
Sementara itu, di 2010, kontribusi investasi industri manufaktur, kata Mahmud, mencapai sekira 40-50 persen dari total realisasi investasi sebesar Rp208,5 triliun atau meningkat dari tahun 2009 yang hanya 30-40 persen.
Mahmud mengatakan, sektor industri yang paling banyak berkontribusi sepanjang 2010 adalah makanan dan minuman (mamin) sebesar Rp16,41 triliun dari penanaman modal dalam negeri (PMDN), sedangkan dari penanaman modal asing (PMA) mencapai USD1,03 miliar.