JAKARTA - Indonesia sebenarnya memiliki potensi orang-orang yang handal dalam energi nuklir, tetapi mereka tidak punya pilihan bekerja di luar negeri. Pasalnya jika sampai kembali ke Indonesia mereka akan menyandang status pengangguran atau memiliki pekerjaan yang tidak tetap karena kurangnya tenaga mereka dimanfaatkan.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PII, Muhammad Said Didu, saat ditanyai wartawan usai pembukaan Rapimnas PII di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (20/11/2011).
"Masyarakat Indonesia itu sebenarnya hebat-hebat, banyak dari mereka yang bekerja di luar negeri karena tidak ada pilihan, jika di Indonesia mereka tidak digunakan," ungkapnya.
Menurutnya, seharus pemerintah memberikan penghargaan kepada mereka agar mereka merasa dihargai dan sebenarnya orang-orang Indonesia ingin sekali bekerja dan memajukan Indonesia tapi karena tidak ada pilihan, "Mereka di dalam negeri merasa tidak dihargai, jika mereka digaji setengah dari yang di luar negeri, pasti mereka akan kembali," ungkapnya.
Selain itu menurutnya, ahli-ahli nuklir di Indonesia sebenarnya cukup banyak, masih menunggu apa lagi untuk membangun energi nukli kalu sudah memiliki SDM yang memadai, "Di Badan Tanaga Nuklir Indonesia (Batan) ada ratusan orang, di Fukushima sendiri ada ahli nuklir kita," ujarnya.
Sebelumnya dijelaskan, dengan adanya energi nuklir akan banyak manfaat yang dapat diambil, mulai dari penguraangan subsidi listrik, krisis energi bahakan hingga terhindar dari krisis ekonomi.
"Saat ini Indonesia membutuhkan pasokan listrik sebanyak 10 ribu mega watt (MW)," tutupnya.
(Andina Meryani)