JAKARTA - Ekspor komoditas primer Indonesia harus berbasis pada nilai tambah mengingat semakin berkurangnya sumber energi di dunia.
"Ekonomi yang tumbuh berdasarkan pada harga komoditas premier sangat rawan, dan harus berbasis pada nilai tambah," ungkap Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Muhammad Said Didu saat ditanyai wartawan usai pembukaan Rapimnas PII di gedung BPPT, Jakarta, Rabu (20/7/2011).
Menurutnya, negara yang berbasis pada komoditas akan mengalami kesulitan, sedangkan yang berbasis infrastruktur akan lebih baik. "Saat ini kita ekspor batu bara dengan harga sekian ke Jepang, di Jepang diolah menjadi sesuatu, lalu di impor ke Indonesia dengan harga tinggi, itu lah kenapa kita harus mulai berbasis nilai tambah," ungkapnya.
Said menjelaskan, dengan adanya nilai tambah tersebut, Indonesia akan mendapatkan keuntungan lebih dari barang yang akan diekspornya. "Jika kita hanya mengekspor komoditas premier, kita akan memberikan nilai tambah pada orang lain," jelasnya.
Negara yang mengacu pada nilai tambah seperti Prancis, Jepang dan lainnya pada tahun 2009 mereka tidak terlalu merasakan dampak krisis ekonomi, berbeda dengan negara yang tergantung kepada komoditas primer.
Pihaknya menyarankan, saat ini pemerintah atau pun swasta untuk lebih mengutamakan nilai tambah, dengan nilai tambah tersebut selain menambah pemasukan devisa juga memberi keamanan pasokan tanpa harus impor dari luar negeri.
(Widi Agustian)