JAKARTA - Tim Harga Minyak Indonesia Kementerian ESDM mengungkapkan ada beberapa faktor penyebab penurunan Formula Indonesia Crude Price (ICP) mencapai USD110,70 per barel atau turun sebesar USD2,24 per barel.
Tim Harga Minyak ESDM mengatakan bila penurunan harga minyak disebabkan oleh beberapa faktor yakni negara-negara OPEC setuju untuk meningkatkan kuota produksinya menjadi 30 juta barel per hari.
Kemudian sentimen negatif atas pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis finansial zona Eropa, dan pemulihan produksi minyak Libya berlangsung lebih cepat dengan tingkat produksi telah mencapai 0,55 juta barel per hari.
"Faktor lain yang mempengaruhi penurunan harga minyak dunia adalah menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) khususnya terhadap Euro menjadikan komoditas minyak menjadi lebih mahal sehingga menurunkan permintaan minyak di kawasan Eropa,” demikian diungkapkan Tim Harga Minyak, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Rabu (4/1/2012).
Selain itu, proyeksi permintaan minyak global 2011 menunjukan penurunan dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya berdasarkan publikasi International Energy Agency (IEA), Energy Information Administration (EIA) dan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) Desember 2011, yaitu:
IEA merevisi permintaan minyak global 2011 menjadi sebesar 89,0 juta barel per hari atau turun 0,16 juta barel per hari dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya, akibat memburuknya perekonomian global dan tingginya harga minyak saat ini.
EIA merevisi permintaan minyak global 2011 menjadi sebesar 88,1 juta barel per hari atau turun 0,10 juta barel per hari dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya, akibat turunnya konsumsi minyak negara-negara OECD.
OPEC merevisi permintaaan minyak global 2011 menjadi sebesar 87,80 juta barel per hari atau turun 0,02 juta barel per hari dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya, akibat kondisi ekonomi yang buruk dan melemahkan aktivitas manufaktur global.
Sementara untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga dipengaruhi oleh turunnya konsumsi minyak China sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan menurunnya kegiatan manufaktur serta penurunan permintaan dari Jepang atas minyak jenis Minas/SLC, sehingga mempengaruhi beberapa harga jenis minyak yang mengacu pada Minas/SLC.
Walaupun harga cenderung mengalami penurunan, namun masih tetap tinggi (di atas USD110 per barel), bahkan khusus WTI mengalami kenaikan dibanding November 2011 yang diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu ancaman embargo negara-negara Barat atas minyak Iran akibat isu nuklir.
Sehingga, Iran mengancam akan memblokade Selat Hormuz yang merupakan perairan penting perdagangan minyak dengan volume minyak mentah yang melewati selat tersebut sebesar 15 juta barel per hari dan peningkatan konsumsi minyak mentah akibat membaiknya perekonomian AS serta penurunan stok minyak mentah.