Fitch Juga Ikut Turunkan Peringkat BTEL

Widi Agustian, Jurnalis
Rabu 29 Februari 2012 10:19 WIB
Logo Fitch. (Foto: Fitch)
Share :

JAKARTA - Fitch Ratings menurunkan peringkat utang (downgrade) PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menjadi CCC dari sebelumnya B. Lembaga pemeringkat ini juga menurunkan peringkat senior unsecured rating jadi CCC dari sebelumnya B.

Analis Fitch Any Sirapurna dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/2/2012) menuturkan, downgrade tersebut akibat terancamnya pembayaran utang BTEL. Yakni sebesar Rp250 miliar yang jatuh tempo pada 4 September 2012 dan utang jatuh tempo obligasi sebesar Rp660 miliar yang jatuh tempo pada 2012.

Sementara posisi kas dan setara kas perseroan cuma Rp250 miliar pada akhir 2012, dan Fitch berasumsi perseroan tidak dapat membayar utangnya tersebut.

BTEL, lanjutnya memang mengaku tengah melakukan negosiasi dengan sejumlah bank untuk mendapatkan pinjaman. Tapi, rasio utang yang tinggi posisi keuangan yang tidak terlalu bagus membuat opsi pendanaan dari obligasi tidak terlalu masuk akal karena akan mahal.

Dia menjelaskan, jika pendapatan BTEL turun hingga tiga persen pada 2011. Sementara pada 2012 sebelumnya perseroan cuma mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 0,8 persen, dan pertumbuhan pendapatan pada 2009 sebesar 24,5 persen.

Kemarin, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat obligasi I-2007 PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menjadi idBBB- dari sebelumnya idBBB+.

"Pefindo juga menempatkan peringkat perusahaan BTEL pada credit watch dengan implikasi negatif," kata analis Pefindo Niken Indriarsih dan Anies Setyaningrum dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (28/2/2012).

Dia menjelaskan, penurunan peringkat ini lantaran melorotnya kinerja perusahaan dan meningkatnya risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) untuk obligasi yang akan jatuh tempo pada 4 September 2012.

Peringkat itu akan diturunkan kembali bila rencana tersebut tidak menunjukan perkembangan yang positif dalam tiga bulan. Selain itu, BTEL kemungkinan gagal memenuhi syarat dalam perjanjian obligasi rupiah, yakni minimum ebitda terhadap beban bunga bersih pada lima kali. "Pefindo akan terus memantau kinerja dan perkembangan perusahaan atas rencana pembiayaan kembali," imbuhnya.

(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya