JAKARTA - Langkah pemerintah yang meminjam uang sebesar USD2 miliar kepada Bank Dunia untuk menguatkan nilai tukar rupiah dirasa tidak masuk akal.
Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menilai, sampai saat ini cadangan devisa dalam negeri masih berjumlah besar, yakni masih di atas USD110 miliar.
"Saya yakin pinjaman tersebut tidak diperlukan, bagi saya ini tidak masuk akal karena cadangan devisa kita masih di atas USD110 miliar. Masa masih mau utang USD2 miliar lagi?" ungkap Tony kepada Okezone, Jumat (18/5/2012).
Pinjaman itu disebut-sebut untuk menguatkan nilai tukar rupiah, namun Tony mengatakan sejauh ini kondisi keuangan pemerintah masih mampu untuk mengatasi pelemahan rupiah.
"Memang rupiah tertekan di atas Rp9.200 per USD, tetapi tidak perlu untuk meminjam, kalaupun mau pinjam harus jelas tujuannya untuk apa," katanya.
Tony menilai pemerintah terlalu tergesa-gesa dalam usahanya mendapatkan pinjaman dalam menjaga ketahanan moneter, padahal Bank Indonesia (BI) masih terbilang mampu untuk mengendalikan nilai tukar rupiah.
"BI masih bisa melakukan intervensi dengan memanfaatkan cadangan devisa USD110 miliar," tutupnya. (git)
(Rani Hardjanti)