JAKARTA - Pinjaman sebesar USD2 miliar dari World Bank akan digunakan untuk pembiayaan kontijensi alias untuk berjaga-jaga jikalau krisis pasar keuangan global semakin memburuk.
"Dana pinjaman itu nantinya akan digunakan untuk pembiayaan kontijensi dan juga untuk jaga-jaga kalau krisis pasar keuangan memburuk sehingga akses ke pasar untuk penerbitan Surat Berharga Negara(SBN) jadi tertutup," ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto melalui pesan singkatnya kepada Okezone, Jumat (18/5/2012).
Rahmat mengatakan, sampai saat ini Indonesia dengan World Bank sudah setuju dan sudah melakukan negosiasi dan tinggal menunggu penandatanganannya. "World Bank sudah setuju dan sudah dilakukan negosiasi, tinggal penandatanganan perjanjiannya saja," terang Rahmat.
Namun, Rahmat mengatakan, pinjaman itu tidak lantas bisa ditarik terkecuali jika ada pemicunya. Misalnya, pemerintah tidak bisa menerbitkan SBN karena yield yang sangat tinggi akibat krisis. "Pinjaman USD2 miliar itu tidak bisa ditarik kecuali jika pemerintah tidak bisa terbitkan SBN karena yield-nya yang tinggi," tutup Rahmat.
Seperti diketahui, World Bank siap memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia sebesar USD2 Miliar (Rp20 triliun) guna mengantisipasi potensi dampak krisis utang global di salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia.
Pinjaman tersebut atas permintaan pemerintah Indonesia sebagai kontingensi terhadap kemungkinan volatilitas pasar yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
(Widi Agustian)