JAKARTA - Dalam kurun waktu enam hari, pemerintah mencatat terjadi kenaikan utang dari Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp1,539 triliun. Meski begitu, kenaikan utang tersebut bukanlah hasil penerbitan obligasi semata.
Berdasarkan data yang dikutip dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan, Jumat (18/5/2012), pada 16 Mei outstanding utang Indonesia meningkat hingga Rp1.294,727 miliar dari Rp1.293,188 miliar ketimbang data per 10 Mei.
Selama periode tersebut, pemerintah memang melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) seri FRO059 dan FRO061 dengan total mencapai Rp755 miliar, terdapat selisih sekira Rp764,299 miliar.
Selisih tersbut, terjadi lantaran nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan. Terpantau per 10 Mei, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp9.247 per USD, sementara pada 16 Mei nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp9.280 per USD.
Dengan demikian, selama periode tersebut terdapat selisih Rp33 per USD. Artinya, setiap kenaikan Rp1 terhadap dolar AS, maka pemerintah harus menggelontorkan dana tambahan sekira Rp23,160 miliar. Inilah yang membuat beban SBN berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) turut meningkat.
Dirjen DJPU Rahmat Waluyanto, mengungkapkan kenaikan SBN tersebut lantaran kombinasi dari keduanya. Menurut dia memang di satu sisi ada tambahan utang karena penerbitan SBN. "Dan terbesar karena kurs rupiah," ungkapnya kepada Okezone.
Meski demikian, menguatnya dolar AS juga memberikan tekanan pada yen Jepang. Tercatat rupiah mengalami apresiasi terhadap yen dari Rp115,96 per yen, menjadi Rp115,46 per yen. Hal ini, membuat obligasi bedenominasi yen menjadi turun dari Rp11,016 triliun pada 10 Mei menjadi Rp10,968 triliun pada 16 Mei atau turun sekira Rp47,500 miliar.
(Widi Agustian)