DEPOK - Tingginya kenaikan harga kebutuhan pokok selama dua pekan terakhir hingga awal bulan Ramadan, membuat daya beli masyarakat menurun. Hal itu tentu semakin menghimpit warga miskin saat berbelanja kebutuhan pokok.
Tak terkecuali bagi 2,6 persen warga miskin di Depok atau sebanyak 44.200 warga. Bagi para pedagang hingga spekulan, tak memikirkan nasib warga miskin.
Hal itu dikatakan Kepala Bagian Perencanaan Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Depok Nuraeni. Ia menilai pemerintah harus mengecek rantai perdagangan hingga sampai ke tangan konsumen dengan harga yang tinggi.
"Terkait masyarakat miskin tentu betul itu terasa, upaya pemerintah kabupaten kota agak sulit, karena kita mesti lihat naiknya itu dimana apakah pada pelaku usaha besar, atau produsen, atau pedagang. Permintaan ada persaingan ketat. Dan mereka enggak pikir nasib orang miskin, apalagi bahan-bahan tak bisa ditahan, banyak orang yang bikin kue juga di bulan Ramadan," jelasnya kepada wartawan, di Balaikota Depok, Senin (23/7/2012).
Di samping itu, terkait dengan persoalan warga miskin, kata dia, Pemkot Depok berupaya untuk menggelar pasar murah bagi warga miskin. Harganya 50 persen lebih murah ketimbang harga pasar.
“Orang miskin terhimpit harga ini persoalan, upaya kita yakni adakan kegiatan pasar murah diperbanyak, sasarannya harus orang miskin, jangan sampai salah sasaran. Tapi kuota paketnya kan juga enggak banyak,” katanya.
Guna mencegah adanya spekulan di kemudian hari, kata dia, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok tengah menginventarisasi gudang. Dengan pola market intelligent, ia mengklaim akan mampu mengatasi spekulan.
“Indag sedang lakukan inventarisasi gudang. Mereka gunakan metode market intellegent, tapi sih saya rasa kenaikan harga karena memang ada hari raya, karena supply demand meningkat. Mereka para spekulan mau apa sih, kecuali kalau ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) usai Lebaran, barangkali mereka akan melakukan spekulasi,” tandasnya.