Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Masih di Ujung Tanduk

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis
Senin 15 Oktober 2012 10:49 WIB
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
Share :

JAKARTA – Pertumbuhan Indonesia saat ini terbukti tetap kuat menghadapi pelemahan ekonomi dunia. Namun dengan tetap tingginya ketidakpastian global, tantangan Indonesia adalah menjaga ketahanan ini.

Bank Dunia (World Bank/WB) menilai, pertumbuhan Indonesia sebesar 6,4 persen (yoy) pada kuartal II-2012 masih kuat didorong kuatnya konsumsi swasta dan meningkatnya investasi. Namun, Indonesia jelas tak luput dari pengaruh pelemahan dunia internasional.

WB menilai, langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh bank-bank sentral di Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Zona Euro telah bantu menenangkan pasar keuangan tetapi pertumbuhan dunia masih tetap lemah. Secara regional, pertumbuhan investasi telah melemah di China dan ini berpengaruh terhadap permintaan dan harga komoditas.

"Kinerja pertumbuhan Indonesia saat ini tetap kuat tetapi masih terdapat risiko penurunan yang cukup besar terhadap perkiraan ekonomi dunia," kata Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle, dalam laporan tertulisnya, Senin (15/10/2012).

Menurutnya, ekspor netto menjadi beban besar terhadap pertumbuhan PDB pada kuartal kedua 2012. Nilai ekspor bulanan juga semakin menurun, dengan ekspor yang berkaitan dengan sumber daya alam mencatat penurunan terbesar. Penurunan dalam surplus perdagangan barang turut melebarkan defisit neraca berjalan pada kuartal kedua 2012.

Namun, sebagian tekanan terhadap neraca perdagangan akan terkoreksi sendiri (self correcting) dengan turunnya permintaan atas impor barang modal dan setengah-jadi yang digunakan sebagai input untuk produksi ekspor.

"Mendukung investasi dengan memastikan peraturan yang jelas dan konsisten, serta terus meningkatkan kualitas belanja pemerintah, dapat membantu ketahanan perekonomian Indonesia," jelas dia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya