JAKARTA - Pemerintah akan menerapkan penggunaan bahan bakar nabati untuk pesawat udara (Aviation Biofuel) pada tahun depan dan ditargetkan di 2016 pemanfaatan baurannya sebesar 2 persen.
Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, pasokan aviation biofuel memang belum ada pabrik untuk mengolahnya, namun dirinya meminta BUMN dalam hal ini Pertamina untuk membangun pabrik biofuel.
"Ini kan memberi pesan supaya pabriknya segera dibuat. Pemerintah komit kesana. Ini kick off. Kita mendorong BUMN Pertamina membuatnya. Kita mengitung kalau 2 persen itu membutuhkan 100 ribu kiloliter BBN." ucap Dadan di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (27/12/2013).
Menurut Dadan, kandungan Bioavtur itu 100 persen sama seperti avtur, tidak ada bedanya. "Bisa dari CPO, minyak kelapa dan sebagianya. Kalau sudah dicampur enggak bisa dibedain, tapi prosesnya lain," tambahnya.
Dadan menjelaskan, ini yang sekarang Pertamina dialami. Selama ini belum ada penyerapan karena pabriknya belum ada. Sedangkan dari sisi harga memang belum komersial.
"Tapi kedepannya pasti turun. Harga itu dari bahan baku. Kalau sawitnya mahal, harganya jadi mahal. Nilai harga sekarang lebih mahal 70 persen tapi kalau dicampur dua persen, pertamina menghitung penambahan per liternya Rp200-300 untuk orang yang naik pesawat," pungkasnya.(rez)
(Widi Agustian)