JAKARTA - Perekonomian Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar, baik dari sisi eksternal maupun internal. Kondisi margin compression merupakan hal yang saat ini dihadapi oleh sektor perbankan.
Hal ini disebabkan oleh mahalnya cost of fund sebagai dampak dari kebijakan moneter ketat yang dilakukan oleh Bank Indonesia (kenaikan moneter ketat ditandai oleh tingginya suku bunga acuan yang mencapai 7,5 persen)
Sekretaris Jenderal Perbanas Anika Faisal mengatakan, kolaborasi Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangatlah penting. "Yang menjadi tantangan adalah ketika harus membuat keputusan-keputusan yang menyangkut mikro dan mikro, ketika situasi ekonomi yang menantang, harus buat keputusan terbaik secara segera," paparnya, Jakarta, Senin (16/6/2014).
Dirinya mengatakan, beberapa instrumen kebijakan makro Prudential yang digunakan oleh BI antara lain, Penetapan target pertumbuhan kredit, penetapan Loan To Value (LTV), dan penetapan reserve Requirement.
"Tingginya cost of fund menyebabkan tingginya suku bunga simpanan, Sementara itu, bank tidak bisa serta merta menaikkan suku bunga kredit karena dikhawatirkan dapat menaikkan resiko kredit macet (NPL)," ungkapnya.
Menurutnya adanya kebijakan sangat penting dilakukan untuk menghadapi berbagai tantangan perekonomian nasional meliputi kebijakan makro ekonomi, makro Prudential dan mikro Prudential.
"Perlu adanya dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dan pelaku industri sektor keuangan perbankan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kebijakan makroprudensial di Indonesia," tutupnya.
(Fakhri Rezy)