JAKARTA - Melejitnya harga properti di kisaran tiga hingga tujuh persen bukan dipengaruhi oleh naik turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kenaikan harga properti tersebut.
Menurut Pengamat Properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, besarnya kenaikan harga properti di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kemauan pengembang untuk menaikan harga, karenanya karakteristik pasar properti yang ada lebih ditentukan oleh supply driven dan bukan demand driven.
"Pengembang akan terus menaikkan harga di saat permintaan sedang tinggi dan tidak ada instrumen yang bisa mengendalikan harga properti sampai harga yang dipatok menjadi over value dan pasar jenuh. Bahkan sebenarnya kenaikan BBM pun relatif tidak mempengaruhi harga properti secara langsung. Naiknya BBM akan mempengaruhi biaya produksi namun tidak secara tiba-tiba, melainkan akan berdampak tiga bulan berikutnya. Namun dengan turunnya BBM saat ini, dampaknya pun hampir diperkirakan tidak ada." kata dia yang dilansir dari laman resmi IPW, Senin (5/1/2015).
Selain karena permainan dari pengembang, faktor lain yang membuat harga properti naik di awal tahun adalah karena inflasi bahan bangunan. Di samping itu, tertahannya harga properti saat ini lebih dikarenakan kondisi daya beli yang relatif tergerus akibat naiknya suku bunga KPR dan kondisi pasar properti saat ini yang sudah jenuh karena kenaikan harga yang sudah sangat tinggi dalam 3 tahun terakhir.