Ia mengatakan IPAL skala rumah tangga merupakan cara yang lebih realistis dalam memperbanyak pembangunan IPAL untuk menampung limbah cair karena biaya yang dibutuhkan tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan IPAL komunal.
Dia mengharapkan para perajin batik mengolah limbahnya sendiri tanpa harus membuang langsung ke sungai yang dapat menimbulkan pencemaran.
Seorang perajin batik, Fatuhrahman Noor, mengatakan perajin sudah berusaha mengolah limbah batiknya, terutama yang belum tercemar dengan air, yaitu yang belum bercampur dengan air sehingga mudah diurai untuk dijadikan pupuk dan tidak dibuang ke sungai.
"Perilaku mengolah limbah sendiri memang diharapkan menjadi kesadaran dari pelaku indsutri batik melalui praktik langsung di lapangan. Permasalahan limbah tidak akan bisa terselesaikan jika tidak didukung oleh peran serta dari masyarakatnya sendiri," katanya.
(Widi Agustian)