Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, beberapa daerah Indonesia Timur tersebut antara lain Bali dan Nusa Tenggara yang tumbuh sebesar 11 persen. Angka pertumbuhan tersebut merupakan angka tertinggi dari keseluruhan wilayah di Indonesia.
Kedua daerah tersebut tumbuh dikarenakan faktor pariwisata (tourism) dan jasa yang menjadi ujung tonggak pertumbuhan ekonomi daerah. Melihat kondisi tersebut, pengusaha maupun pemerintah harus segera menghentikan kebiasaan bergantung pada komoditas, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
"Kita sudah lihat akibatnya (bergantung pada komoditas). Ekonomi yang sustainable bukan ekonomi berbasis komoditas. Indonesia Timur itu basisnya komoditas. Saya harap Bapak Ibu mulai mengubah paradigma bahwa Indonesia Timur berbasis komoditas," ungkapnya dalam acars Trade & Investment Forum: East Indonesian Regions Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (25/5/2015) malam.
Bambang menegaskan, investasi yang paling tepat untuk Indonesia Timur adalah pabrik pengolahan atau pemurnian (smelter), seperti halnya yang sudah diterapkan di Sulawesi.
"Yang menetralkan adalah pengolahan, contoh Sulawesi. Meskipun petani cokelat terganggu harga yang turun tapi masih punya pasar yakni pabrik yang mengolah. Bapak Ibu yang punya sense of partnership minta pemerintah daerah untuk keluar dari kebiasaan itu," tegas dia.
Dia menjelaskan, masih banyak potensi investasi yang harus dikembangkan di Indonesia Timur. Oleh karena itu, satu-satunya harapan untuk tumbuh cukup baik adalah investasi. Di sinilah peran pemerintah dan swasta sangat diperlukan.
"Melalui investasi yang harus diperhatikan adalah investasi pemerintah dan swasta. Untuk swasta ada investasi dalam negeri, asing, dan BUMN. Kalau pemerintah, maka andalkan belanja APBN dan APBD," jelasnya.
Oleh karena itu, dia menilai potensi Indonesia Timur harus segera dimanfaatkan dengan peluang yang ada, karena Indonesia Timur mempunyai peluang tidak kalah dengan daerah-daerah lainnya.
"Indonesia Timur masih punya peluang paling tidak dalam kondisi perlambatan masih punya kemampuan tumbuh tidak selambat daerah-daerah lainnya," pungkas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)