Meski demikian, dia tidak membantah jika ada perusahaan di Indonesia yang telat atau gagal membayar utang kepada pihak kreditor luar negeri. Namun, dia menjamin BUMN tidak akan gagal bayar. "Kalau swasta, urusannya lain," katanya.
Menurut dia, meskipun saat ini ekonomi terkontrasi ke kisaran 4,7 persen, namun belum mencapai resesi."Kita mengalami perlambatan ekonomi iya, tapi kalau resesi sepertinya belum," jelasnya.
Dia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sempat berada di atas lima persen pada tahun lalu. Berbeda dengan beberapa negara lain yang dinyatakan positif terkena resesi atau kemerosotan. "Kalau kita bicara Brasil, Rusia, itu resesi, karena pertumbuhannya negatif tahun ini," jelas dia.
Karenanya, pada semester II ini, dirinya masih optimistis pertumbuhan ekonomi akan berada di atas lima persen. Sebab, pada semester I pertumbuhan ekonomi 4,7 persen tersebut melambat dikarenakan belum adanya belanja pemerintah.
"Tahun ini kita upayakan di atas 5 persen. Dan 4,7 persen di kuartal I adalah belanja modal tanpa belanja pemerintah sama sekali, yang ada hanya bayar gaji pegawai," tandasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)