NEW YORK - Perusahaan automotif dan penyimpanan energi asal Amerika Serikat (AS), Tesla Motors Inc, beberapa hari lalu mengumumkan desain mobil listrik bernama Model 3, yang dalam mengoperasikannya akan membutuhkan satu ton baterai.
Dilansir dari laman Business Insider, Rabu (6/4/2016), guna memproduksi baterai tersebut, Tesla pun membangun sebuah manufaktur ambisius yang memproduksi baterai bernama Gigafactory. Proyek pabrik memiliki luas 5,5 juta kaki persegi, terletak di luar Sparks, Nevada. Pabrik ini pun sengaja dibangun guna mempercepat transisi dunia demi transportasi berkelanjutan.
Untuk memproduksi baterai-baterai ini, Tesla akan menggunakan skala ekonomi, manufaktur inovatif, pengurangan limbah, dan optimalisasi sederhana menemukan proses manufaktur yang paling bawah satu atap.
Adapun biaya konstruksi bangunan sebesar USD5 miliar atau setara Rp66,050 triliun (mengacu kurs Rp13.210 per USD). Dalam pembangunan tahap pertama, Tesla menghabiskan sekitar USD4,5 juta atau Rp59,445 miliar.
Musim panas lalu, Tesla menghabiskan hampir USD13 juta atau Rp171,73 miliar untuk baja dan beton yang digunakan lantai konstruksi paling bawah (mezzanine) bangunan. Sedangkan untuk infrastruktur listriknya menelan biaya sekitar USD300 ribu atau Rp3,96 miliar.