JAKARTA – Perombakan kabinet jilid II kembali dilakukan. Desas desus mengenai pergantian kabinet pada sejumlah menteri dalam bidang ekonomi pun terjawab sudah.
Di luar dugaan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyelipkan nama Sri Mulyani Indrawati dalam jajaran Kebinet Kerja. Ani, begitu ia sering disapa, dikembalikan ke jabatan sebelumnya untuk menjadi Menteri Keuangan.
Sri Mulyani merupakan orang pertama di Indonesia yang berhasil menduduki salah satu jabatan tertinggi di Bank Dunia (World Bank). Menjabat sebagai salah satu Managing Director Bank Dunia, Sri Mulyani menjadi orang kedua yang paling berpengaruh setelah Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. Terang saja, keputusan Jokowi untuk memanggilnya pulang ke Indonesia cukup menggemparkan publik.
Menamatkan pendidikan jenjang Sarjana pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1986, ia melanjutkan pendidikan jenjang magister di University of lllinois Urbana Champaign, Amerika Serikat dengan kekhususan studi ekonomi politik. Pada universitas yang sama, tepatnya pada tahun 1990, Sri Mulyani kembali melanjutkan program doktor hingga memperoleh gelar doktornya pada tahun 1992.
Kecerdasan Sri Mulyani telah terlihat sejak ia berada di bangku perkuliahan. Menjelang menamatkan pendidikan jenjang sarjananya, ia sempat dipercaya menjadi asisten pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Bahkan, di Amerika, ia juga sempat bekerja sebagai Asisten Profesor di University of lllinois Urbana Champaign.
Sekembalinya di Indonesia, ia dipanggil kembali untuk mengabdi sebagai tenaga pengajar di Universitas Indonesia. Karier wanita kelahiran Lampung, 26 Agustus 1962 ini terus merangkak naik hingga menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI). Pada saat di LPEM UI inilah nama Sri Mulyani mulai santer terdengar di hadapan publik.
Keluar dari ‘menara gading’, kiranya itulah yang terlintas dalam pikiran Sri Mulyani. Ibu dengan tiga orang anak ini akhirnya memilih untuk mengembangkan sayapnya hingga ke dunia pemerintahan. Wanita yang juga pernah menjadi Redaktur Ahli Majalah bulanan Manajemen Usahawan Indonesia ini sempat menjabat sebagai penasehat pemerintah pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid.
Kariernya dalam bidang pemerintahan terbilang mulus. Tepatnya pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, 2005, Sri Mulyani ditunjuk menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan setelah sebelumnya menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.
Tak lama berselang, tepatnya pada tahun 2008, Sri ditunjuk untuk menjabat sebagai Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian sebelumnya Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Karier Sri Mulyani terus melejit hingga akhirnya pada 1 Juni 2010, ia ditunjuk untuk menjabat sebagai salah satu Managing Director Bank Dunia. Sri Mulyani juga memecahkan rekor sebagai orang pertama di Indonesia yang memangku jabatan sebagai orang kedua paling berpengaruh di dunia.
Kini, setelah cukup lama berada di Washington, Amerika Serikat, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk memanggil 'kartini' yang selama ini hilang kembali ke Indonesia. Sri Mulyani pun ditugasi menggantikan posisi Menteri Keuangan sebelumnya Bambang PS Brodjonegoro yang kini menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional.
Wanita yang juga pernah menerima penghargaan sebagai wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia tahun 2007 dan Menteri Keuangan terbaik Asia tahun 2006 oleh Emerging Markets ini tengah menyesuaikan diri dengan sejumlah kebijakan yang baru saja diterapkan. Di antaranya adalah penerapan UU Pengampunan Pajak atau tax amnesty.
Menurut Sri, meskipun tidak ringan, namun dirinya sengaja menerima permintaan dari Presiden Joko Widodo. Alasannya tak lain adalah karena ia ingin mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara.
"Saya dengan rendah hati ingin membaktikan kemampuan saya maupun profesionalisme saya. Oleh karena itu saya ingin sekali mendapatkan dukungan dari seluruh jajaran Kemenkeu," jelasnya dalam acara serah terima jabatan di Kantor Kementerian Keuangan, pada Rabu, 27 Juli lalu.
(Martin Bagya Kertiyasa)