JAKARTA - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mempertanyakan mahalnya harga gas di Indonesia ketimbang negara importir gas dari Indonesia seperti Singapura, Vietnam, dan Korea. Di Singapura harga gas sekira USD4 atau lebih murah ketimbang harga gas di Indonesia sekira USD12.
Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan, karena gas ini menjadi tulang punggung dari proses industrialisasi dimana energi ini bisa menjadikan proses industrialisasi yang berdaya saing secara global. Diharapkan harga gas di Indonesia menjadi harga berskala keekonomian.
"Kita harapkan harga gas paling tidak tidak terlalu tinggi perbedaannya antara yang dijual ke Singapura, Korea dan Vietnam, dibandingkan di dlaam negeri. Paling tidak USD7, jangan terlalu mahal,"ujar Ade di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (29/8/2016).
Ade mengatakan, persoalan tata niaga perdagangan gas di Indonesia terlalu kompleks dan complicated, hal tersebut menyebabkan harga gas yang dijual di Indonesia menjadi mahal ketimbang harga gas yang dijual ke luar negeri.
"Gas asal Indonesia dijual ke Singapura dengan harga berkisar USD4, begitu harga gas dijual sendiri di Indonesia maka harga gas sudah USD12, artinya disitu terjadi percaloan yang luar biasa,"ujarnya.
"Ini yang harus kita benahi, kan gas itu bisa langsung berikan implikasi bagiamana bisa bermanfaat bagi masyarakat yang sebesar-besarnya. Sehingga terhadap industri dalam negeri seolah-olah industri dalam ngeri usdah baik dibandingkan yang lain," tandasnya.
(Fakhri Rezy)