Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengusaha Tekstil soal Tarif Trump 0 Persen ke AS dengan Syarat

Rohman Wibowo , Jurnalis-Senin, 23 Februari 2026 |07:55 WIB
Pengusaha Tekstil soal Tarif Trump 0 Persen ke AS dengan Syarat
Pengusaha Tekstil soal Tarif Trump 0 Persen ke AS dengan Syarat (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Pengusaha tekstil buka suara soal Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Dalam perjanjian tersebut, AS memberikan tarif impor nol persen untuk produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia.

Salah satu poin utama dalam dokumen tersebut adalah komitmen AS untuk memberlakukan tarif impor nol persen melalui mekanisme tariff-rate quota (TRQ) yang rincian teknisnya akan diatur lebih lanjut.

Namuun, tarif 0 persen ini tidak sepenuhnya disambut positif kalangan pengusaha. Ada isu dalam tingkat utilisasi yang mempengaruhi volume kuota ekspor pabrikan tekstil dalam negeri. 

Tarif 0 Persen tapi Impor Bahan Baku dari AS

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengetahui betul syarat pembebasan tarif 0 persen untuk ekspor sektor tekstil ke AS mesti tergantung seberapa besar volume impor bahan baku seperti kapas dan serat buatan dari AS. Semakin banyak pabrik dalam negeri mengimpor bahan baku tersebut dari AS, semakin pula besar kuota ekspor yang didapat.

"Agak berat untuk mendapatkan kuota besar, karena posisi industri pemintalan yang mengkonsumsi kapas saat ini utilisasi hanya ada di bawah 50 persen," kata Redma kepada Okezone, Jakarta, Senin (23/2/2026). 

Redma merincikan, biasanya konsumsi kapas sektor hulu industri tekstil sekitar 600 ribu ton. Dari jumlah itu, porsi kapas dari AS bisa tembus 300 ribu ton.

Namun, di masa industri tekstil yang sedang fluktuatif ini, tingkat utilisasi di bawah 50 persen membuat volume impor kapas hanya 300 ribu ton, dan serapan impor kapas dari AS sebatas 75 ribu ton.

"Dalam MoU kemarin, AS meminta Indonesia setidaknya impor 150 ribu ton kapas. Supaya kita bisa impor kapas lebih banyak, utilisasi industri pemintalannya yang harus dinaikan," kata Redma.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement