BOYOLALI - Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Karangnongko Umbul Sentosa Boyolali mengungkap, peternak sapi lokal semakin tertekan ketika Industri Pengelola Susu (IPS) lebih memilih impor susu dibandingkan menyerap susu sapi lokal. Salah satu alasan IPS melakukan hal tersebut karena harga susu impor jauh lebih murah.
"Impor susu murah kan. Kemarin 1 liter itu Rp3.600, kalau beli susu peternak mencapai Rp4.100 per liter,"ujarnya di Dukuh Kebonmoyo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (23/11/2016).
Dirinya berharap, pemerintah memperhatikan hal ini, karena susu peternak sapi lokal khususnya Boyolali semakin terancam tidak terserap. Pemerintah pusat harus membuat suatu aturan, di mana IPS wajib menyerap susu lokal sebelum melakukan impor.
"Selama ini tidak ada bentuk kepedulian terhadap peternak. Gereget pemerintah tidak ada terhadap perkembangan sapi perah, baik populasi, dan lainnya, ini sangat kurang. Kita berharap satu regulasi bukti serap masing-masing pabrik harus serap susu segar,"tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Penampungan Susu Sapi Karangnongko Parman mengatakan, harga susu di tingkat peternak saat ini terbilang rendah. Menurutnya harga ideal susu di peternak seharusnya mencapai Rp6.000 per liter.
"Sekarang harga beli Rp4.184 per liter. Maksimal kalau kualitas susu bagus Rp4.500 per liter. Kalau ditanya idealnya berapa Rp6.000 per liternya," ujarnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)