Di Tangerang Selatan, Nico menilai, perkembangan UMKM sangat pesat. Utamanya bisnis kuliner tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Menurut Pria lulusan teknik Kimia Institut Teknologi Semarang (ITS), Tangsel memiliki potensi pasar yang cukup besar di tengah pembangunan pemukiman-pemukiman di wilayah suburban.
Kendati demikian, dia mengakui pelaku UMKM masih memiliki permasalahan. Di mana UMKM didorong untuk menggerakkan roda perekonomian, tetapi di sisi lain sangat sulit untuk mendapatkan modal pinjaman dari bank.
"Ini suatu kebijakan yang kontraproduktif. Untuk mendapatkan pinjaman modal dari bank syaratnya sangat ketat sehingga sulit untuk mengembangkan usaha,” keluh Nico.
Kemudian masalah infrastruktur juga menjadi tantangan. Kondisi jalan yang tidak memadai menyebabkan kemacetan parah. Kondisi itu menghambat orang yang ingin datang berwisata kuliner.
"Di Rawa Buntu misalnya, banyak berdiri rumah makan tetapi sering terjadi kemacetan dan sudah lama tidak terselesaikan sehingga orang banyak menghindari itu. Itu secara langsung mengurangi omzet," kata dia.
Masalah lain yang dihadapi adalah banyak pelaku usaha yang belum melek teknologi serta proses perizinan yang rumit dan mahal.