KAIRO - Saat Matahari terbit pada hari pertama 2017, banyak warga Mesir mengharapkan lebih banyak lapangan kerja dan harga lebih rendah pada Tahun Baru, setelah negeri itu menderita resesi ekonomi dan kenaikan harga selama enam tahun belakangan.
"Saya berharap para pengangguran akan mendapat pekerjaan dan harga dapat terjangkau. Jika kedua hal itu terwujud, setiap orang akan bahagia," kata Mahmpud Hussei (23) di salah satu jalan yang dipenuhi orang di sekitar Bundaran Giza di dekat Ibu Kota Mesir, Kairo.
Pemuda tersebut, lulusan lembaga teknik yang tak memiliki pekerjaan di antara 12,8 persen dari 94 juta warga di Negeri Piramida tersebu itu, menurut statistik terkini, mengatakan kepada Xinhua ia telah berbulan-bulan mencari pekerjaan.
Beberapa bulan mengucapkan selamat jalan kepada tahun 2016, Pemerintah Mesir memulai rencana ketat pembaruan ekonomi dan pemotongan subsidi energi, tindakan yang menaikkan harga banyak barang keperluan dasar termasuk makanan dan obat, terutama setelah bank sentral mengizinkan kurs mengambang penuh mata uang negeri tersebut.
"Saya ayah enam anak. Biaya buat makan hari ini untuk delapan anggota keluarga kami telah berlipat. Kami benar-benar mengharapkan kondisi yang lebih baik pada 2017," kata Hany Rashed, kontraktor pembangunan yang berusia 45 tahun, di satu kedai kopi lokal di pusat kota Kairo.
Rashed mengatakan kenaikan harga bahan bangunan mengakibatkan resesi di pasar, "sebab pembeli sekarang menunda rencana pembangunan mereka sampai harga menjadi stabil", sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. Ia menyatakan harga satu ton baja naik sebesar 25 persen menjadi hampir 11.000 pound (lebih dari 600 dolar AS).