Menurut dia, Malaysia dan Filipina menjadi harapan besar untuk terus meningkatkan ekspor. Namun demikian, pihaknya belum menargetkan peningkatan ekspor pada tahun ini. Kami punya harapan besar pada Malaysia dan Filipina. Filipina hanya punya satu pabrik keramik di sana sedangkan marak bisnis properti menjadi angin segar," ungkapnya.
Sementara untuk Malaysia, tidak mudah untuk masuk ke sana karena selain harus dilengkapi dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan ISO, juga harus memiliki sertifikat standar dari Malaysia. "Saat ini kami sedang diaudit. Kami targetnya hasil audit sudah pas dan sebelum pertengahan bulan Juni sudah bisa ekspor perdana paling lambat ke Malaysia," jelas Edy.
Edy juga meminta pemerintah untuk merealisasikan janji penurunan harga gas bagi industri keramik. Pasalnya, gas merupakan komponen biaya terbesar dari proses produksi keramik.
"Harga gas di Indonesia mencapai USD9 per mmbtu. Ini yang membuat Indonesia sebagai negara dengan harga gas termahal di dunia. Sementara dibandingkan dengan Malaysia hanya USD3,5-4 per mmbtu. Bagaimana bisa meningkatkan ekspor ke mereka kalau secara harga beli gas mahal," tandasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)