SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memastikan jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) sudah siap difungsikan secara gratis mulai hari ini. Kendati begitu, hanya mobil kecil yang boleh melintas, itu pun dengan kecepatan maksimal 40-50 km/jam.
Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan, pembatasan kecepatan diberlakukan atas pertimbangan keselamatan. Di beberapa titik rawan jalan tol ini belum terpasang pembatas. Selain itu, sebagian badan jalan lebih tinggi dari persawahan di kanan dan kiri tol. Pada seksi Sepanjang-Krian, ada beberapa ruas jalan yang menyempit dan cukup dilewati satu kendaraan.
“Sudah rata semua, tanggal 19 Juni kami buka,” Soekarwo di sela peninjauan kesiapan tol untuk jalur mudik kemarin. Jalur tol dari Surabaya-Mojokerto dibuka pada 19-26 Juni 2017, sedangkan arah sebaliknya dari Mojokerto-Surabaya dibuka pada 27 Juni-3 Juli 2017. Dari pantauan kemarin, Tol Sumo Seksi IA Waru-Sepanjang sudah bisa dilewati dengan mulus.
Hal ini bisa dipahami karena Tol Waru-Sepanjang memang telah dioperasikan beberapa waktu lalu dengan tarif Rp1.500. “Tapi masih kita minta yang 1A (Waru-Sepanjang) diusulkan untuk Rp0. Itu masuk bagian dalam segmen Waru-Krian,” ungkap gubernur dua periode ini. Orang nomor satu di lingkungan Pemprov Jatim ini pun meminta kepada Dishub Jatim untuk turut terlibat pada fungsional jalan tol nanti. Dalam hal ini adalah penjagaan selama musim mudik.
Hal itu karena di jalur tersebut masih banyak persimpangan jalan desa yang harus dijaga. “Yang penting di persilangan desa ada petugasnya. Kami siap pengamanan. Insya Allah kami siap nanti sebelum hari raya,” tuturnya. Pada pagi kemarin, beberapa persimpangan terlihat sudah dijaga petugas Jasa Marga. Untuk Seksi IV Krian-Mojokerto sepanjang 23,5 km, pengendara dibebani Rp15.500.
Sementara itu, sebagian jalan Tol Mojokerto-Jombang masih fungsional dan Jombang-Ploso sudah operasional. Kemudian pengendara bisa putar balik di pintu Tol Mengkreng, selanjutnya melalui Jembatan Mengkreng. Pada jalur ini, pengendara harus memacu kendaraannya pelan. Terutama masuk jembatan bailey yang jalannya menyempit dan menanjak. “Dibuat memang sempit jalannya antara jembatan bailey. Kalau dibuat lebar ngantrenya akan berada di jembatan,” jelasnya.
“Karena itu didesain seperti itu. Untuk menghindari penumpukan,” paparnya. Di pihak lain, Tol Wilangan-Ngawi baru bisa difungsikan hingga Madiun. Hanya akan dipergunakan untuk arus balik dari Ngawi ke Surabaya. Lalu untuk arus mudik dari Surabaya ke Ngawi, melalui jalan arteri Saradan. Ini berbeda dengan ruas jalan Tol Surabaya-Kertosono yang difungsikan satu arah sesuai arus mudik dan balik Lebaran.
“Rambu-rambu sudah ada. Tapi belum ada tulisan lengkap. Jalur hanya yang di LC (land concreate) tadi, selebihnya sudah bagus. Memang di LC ini problemnya,” ujar Pakde Karwo. Kepala Dinas Perhubungan dan LLAJ Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, tol ini akan dibuka pada Senin (19/6/2017).
Digunakan untuk arus mudik arah ke barat saja selama satu pekan. Untuk Tol Wilangan-Ngawi, Wahid menambahkan, jalan tol ini membentang sepanjang 18 km dengan status fungsional. Harapannya dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di Saradan.
Kurangi Kemacetan
Sementara itu, untuk mengurangi kepadatan kendaraan selama arus mudik dan balik Lebaran, Tol Surabaya-Kertosono sepanjang 78 km juga mulai dioperasikan hari ini. “Sesuai janji saya, sehari menjelang dibuka akan kami cek kondisi jalan dan kesiapan petugas di ruas Tol Surabaya-Kertosono,” kata Soekarwo. Ruas tol yang dibuka mulai pukul 06.00 hingga 17.00 tersebut diyakini mampu mengurangi kepadatan di jalan arteri sampai 30%.
“Tol itu akan dibuka untuk satu arah, kecuali yang sudah dioperasikan resmi. Yakni ruas Mojokerto-Krian dan Jombang-Bandarkedung Mulyo,” tuturnya. Tol lain yang dioperasikan adalah Tol Kertosono-Ngawi. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Madiun Kurnia Aminulloh memprediksi difungsikannya Tol Kertosono-Ngawi dapat mengurangi kemacetan yang rawan terjadi di wilayahnya selama masa angkutan Lebaran 2017.
“Meski tidak signifikan, diharapkan dengan dibukanya jalan tol ruas Ngawi-Kertosono di wilayah Kabupaten Madiun sebagai alternatif jalur mudik, dapat mengurangi kemacetan di jalan nasional, mulai Caruban hingga Kaligunting, Saradan,” ujar Kurnia.
Menurut dia, sesuai hasil peninjauan Korlantas Mabes Polri, Dinas Perhubungan Provinsi Jatim, pelaksana proyek, pemda, Polres Madiun, dan pihak terkait lainnya, telah disepakati jalan tol ruas Ngawi-Kertosono di wilayah Kabupaten Madiun dapat difungsikan sebagai jalur alternatif mudik dan balik Lebaran tahun ini. Mulai H-7 hingga H+7, ruas jalan tol ruas Ngawi-Kertosono di wilayah Kabupaten Madiun tersebut akan dibuka dan difungsikan sebagai jalur alternatif mudik.
“Sesuai rencana, tol akan dioperasikan mulai jam 06.00 WIB hingga jam 17.00 WIB. Meski demikian, jika kondisi sekitar sangat padat setelah itu, terpaksa akan kami gunakan untuk mengurangi kemacetan di beberapa ruas,” kata dia. Kurnia menjelaskan, sudah menjadi langganan, jalan nasional di jalur Caruban-Saradan hingga daerah Wilagan masuk perbatasan Kabupaten Nganjuk dengan Madiun selalu terjadi macet saat masa angkutan Lebaran.
Adapun kemacetan tersebut disebabkan karena terdapat dua perlintasan kereta api dan tingginya volume kendaraan yang melintas di jalur tersebut, sementara kondisi jalan relatif tetap. “Saat ini kepemilikan kendaraan pribadi, baik roda dua dan roda empat semakin tidak terkendali. Hal itu juga yang menjadi faktor kemacetan di jalan raya,” papar Kurnia.
Data mudik Lebaran 2016 mencatat, pada H-2 hingga H+2, sekira 450.000 kendaraan bermotor melewati ruas jalan sepanjang 25 kilometer di Kabupaten Madiun tersebut. Dengan rincian, roda dua sebanyak 200.000 unit, kendaraan roda empat 160.000 unit, dan sisanya kendaraan roda di atasnya. Diperkirakan kemacetan rawan terjadi menjelang sore hari, saat pemudik mengejar waktu untuk berbuka puasa.
Ia meminta para pemudik agar berhati-hati saat melakukan perjalanan mudik dan balik Lebaran. Guna memaksimalkan layanan jalur mudik, pihaknya mendirikan pos pelayanan terpadu di wilayah perbatasan Wilangan dengan Saradan yang melibatkan pihak kepolisian, TNI, Dishub, Dinkes, Satpol PP, dan instansi terkait lain.
“Pos itu melayani keamanan, kesehatan, informasi, relaksasi, dan hal lainnya yang dibutuhkan saat masa mudik dan balik Lebaran. Diharapkan, dengan difungsikannya jalan tol sebagai jalur alternatif mudik, kemacetan dapat berkurang,” katanya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)