"Kita bisa memproduksi garam lebih efisien, lebih cepat. Lahan kita kan selama ini terlalu kecil, petani memasukkan air garam, 14 hari, diuapkan. Kalau hujan, habis. Nah, ada teknologi dengan mengalirkan air garam, berputar-putar untuk meningkatkan konsentrasinya," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto.
Baca Juga:
Unggul menjelaskan, dengan teknologi tersebut diperlukan lahan yang cukup luas untuk menampung air laut yang akan dikristalisasi dalam empat hari. Begitu konsentrasi tinggi, baru dialihkan ke lahan petani.
Dengan teknologi itu maka petani bisa panen garam dalam empat hari dari sebelumnya yang membutuhkan waktu 12 hari. Selain menghasilkan garam, teknologi tersebut juga dapat menghasilkan produk lain. Misalnya air yang sudah dipakai, bisa ditampung, bisa dimanfaatkan untuk industri seperti minuman isotonik. Lahan luas juga bisa ditebar benih untuk makan ikan.
(Widi Agustian)