“Sementara untuk tahun depan, meski masih terdapat ruang pelonggaran akibat faktor inflasi, tapi akan lebih terbatas akibat perubahan stance kebijakan The Fed dan ECB (Bank Sentral Eropa),” ujar Samsu.
Sementara tren penurunan JIBOR rupiah sebagai dampak pelonggaran kebijakan moneter juga akan lebih terbatas, menunggu langkah lanjutan BI ke depan terkait arah pelonggaran. “Kinerja likuiditas perbankan, khususnya LDR pada akhir tahun cukup terbantu dengan turunnya bunga DPK,” katanya.
Chief Economist SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) Eric Alexander Sugandi mengungkapkan, melambatnya pertumbuhan kredit tahun ini disebabkan beberapa hal.
Pertama, dari sisi suplai, di mana perbankan masih berhati-hati dan belum terlalu agresif memberikan pinjaman lantaran pertumbuhan ekonomi yang masih tertekan sehingga bisa menyebabkan risiko kredit bermasalah (NPL) naik.
Kedua, dari sisi demand, yakni banyak perusahaan yang tidak meminjam kredit dikarenakan pertumbuhan bisnis yang masih belum kuat. “Ini di antaranya karena melemahnya konsumsi rumah tangga akibat pelemahan daya beli,” ujar dia saat dihubungi kemarin.