KUALA TANJUNG - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Persero memperkirakan dalam delapan ke depan tidak lagi mengimpor alumina bahan baku pembuatan aluminium setelah pabrik smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat yang ditargetkan beroperasi penuh mulai tahun 2025.
"Jika proyek SGAR beroperasi, Inalum diproyeksikan tidak lagi mengimpor alumina. Selama ini impor alumina Inalum dari Australia bisa distop, karena nantinya sudah dapat diproduksi di dalam negeri," kata General Manager SDM & Umum Inalum, Moh Rozak Hudioro, di sela Media Gathering Inalum 2017, di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, Rabu (6/12/2017).
Menurut Rozak, ketika smelter yang akan dibangun di kawasan Tanah Kuning, Kaltara tersebut dioperasikan maka dapat mendorong penghematan dan efisiensi, karena tidak lagi mengeluarkan devisa untuk transaksi pembelian alumina dari luar negeri.
Baca juga: Holding BUMN Tambang, Pabrik Smelter Mempawah Ditargetkan Beroperasi 2021
Saat ini, kapasitas produksi Inalum di pabrik Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mencapai 260.000 ton aluminium ingot dan diharapkan dapat ditingkan menjadi 500.000 ton pada 2022.
Ia menjelaskan, selama ini Inalum mengimpor alumina sebanyak 500.000 ton per tahun dengan harga alumina 400 dolar AS per ton.