JAKARTA - Industri sawit nasional yang berkontribusi USD22,97 miliar terhadap devisa pada 2017 perlu terus dipacu dan didorong melalui konsep Indonesia Incorporated.
Keberpihakan seluruh komponen bangsa sangat menentukan keberhasilan pengelolaan komoditas rakyat itu dari maraknya gempuran kampanye hitam dan hambatan perdagangan.
Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) Christianto Wibisono, mengungkapkan, Indonesia Incorporated adalah budaya kerja yang harus diwujudkan untuk pembangunan ekonomi dan upaya tersebut harus konstitusional.
Baca Juga: Sawit Penting Bagi Perekonomian RI, Ini Alasannya
Peran presiden, kepala daerah, dan para pemangku kepentingan sangat penting untuk membangun kesatuan ekonomi nasional yang terorga nisasi dan berdaya saing. Pemerintahan Jokowi perlu berusaha keras untuk mengamankan sawit dari citra negatif.
”Perlu prioritas untuk memobilisasi dan memberda yakan semua aset yang ada dan merintis perbaikan ke arah pembangunan berkelanjutan,” kata Christianto.
Baca Juga: Bappenas: Kelapa Sawit Jadi Primadona Ekspor, Tapi Punya Keterbatasan
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggar tiasto Lukita mengajak industri kelapa sawit untuk meng edukasi masyarakat untuk melawan propaganda mengenai minyak sawit. Edukasi tersebut akan memunculkan klarifikasi atas tuduhan pihak luar terhadap minyak sawit Indonesia. Pemerintah akan terus melawan kampanye hitam dan persaingan tidak sehat terhadap minyak sawit Indonesia. Karena itu, dia kerap bersurat dengan pihak Eropa mengenai diskriminasi terhadap sawit.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan sawit rakyat harus menjadi prioritas.
Baca Juga: Kementan: Kelapa Sawit Anugerah untuk Indonesia
”Kemanapun saya pergi tidak pernah lupa untuk mengampanyekan sawit sebagai aset bangsa yang perlu dijaga bersama. Seharus nya tidak perlu ada arogansi kepentingan karena semangat yang harus dibangun adalah kesejateraan Indonesia,” kata Mentan.
(sudarsono)
(yau)
(Rani Hardjanti)