JAKARTA - Depo mass rapid transit (MRT) fase II disepakati di Kampung Bandan, Jakarta Utara. Sebelumnya ada usulan depo dibangun di kawasan Ancol.
Setelah kepastian depo ini, Pemprov DKI akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk percepatan moda transportasi massal berbasis rel itu.
MRT fase II sepanjang 8,3 kilometer melayani perjalanan Bundaran HI-Kampung Bandan. Jika tak ada aral melintang, MRT koridor selatan-utara ini beroperasi pada 2020. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno telah bertemu Duta Besar Jepang untuk membicarakan kelanjutan MRT fase II pada Jumat (23/3/2018). Menurut dia, penggunaan lahan PT KAI sebagai depo MRT di Kampung Bandan sudah mencapai kesepakatan.
“Kesepakatan ini harus ditindaklanjuti kembali mengikuti arahan Land Acquisition sebagai konsultan se-belum penandatanganan kerja sama,” ujar Sandi kemarin.
Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah menuturkan, pemanfaatan lahan PT KAI di Kampung Bandan segera dibahas soal substansi melalui perjanjian kerja sama. Kesepakatan PT MRT dengan PT KAI akan dituangkan dalam memorandum of understanding (MoU). “Kerja samanya menggunakan skema business to business ,” katanya.
Menurut dia, tahapan pengerjaan MRT fase II masih menunggu konsultan yang sudah on board saat ini. Output dari konsultan berupa dokumen basis engineering design itu yang akan digunakan untuk pengadaan kontraktor pengerjaan konstruksi MRT fase II. “Jadi tahapan pengerjaan baru akan diketahui dari output yang dikerjakan konsultan,” ucapnya.
Anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bidang Perkeretaapian Aditya Dwilaksana meminta Pemprov DKI dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) duduk bersama membicarakan kerja sama yang saling menguntungkan terkait MRT fase II.
PT KAI yang berorientasi terhadap keuntungan tidak mungkin begitu saja menyerahkan aset tanpa ada keuntungan. Apalagi umumnya bila bekerja sama dengan pihak ketiga atau perusahaan swasta, keuntungan KAI jauh lebih besar daripada kerja sama dengan sesama pemerintah. Selain itu, banyak pembangunan di Jakarta saat ini juga dibangun BUMN maupun BUMD. Dia khawatir saat dioperasikan nanti baik MRT dengan KRL Commuter Line maupun light rail transit (LRT) Jabodebek dan moda transportasi berbasis angkutan jalan, pengelolaannya tidak terintegrasi. Akibat itu, masyarakat merasakan kesulitan dalam menggunakan moda transportasi massal.
“Masyarakat itu mau naik transportasi massal kalau saling terintegrasi. Bukan hanya fisik, tiket maupun jadwal operasionalnya juga harus terintegrasi. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) harus mengatasi ini,” tandasnya.
Pembangunan MRT fase I Bundaran HI-Lebak Bulus hampir 100%. Setelah fase I selesai, PT MRT Jakarta bersiap melanjutkan proyek MRT fase II. Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar berharap groundbreaking MRT fase II bisa dilakukan akhir 2018. MRT sedang memperkirakan harga atau biaya untuk membangun MRT Bundaran HI-Kampung Bandan.