Tinggalkan Kerja yang Muter-Muter hingga Komoditas Termahal di Dunia

Giri Hartomo, Jurnalis
Minggu 06 Mei 2018 09:07 WIB
Foto: Okezone
Share :

JAKARTA - Presiden Joko Widodo menyentil para pejabat Negara maupun pusat yang masih bekerja dengan lambat atau muter-muter. Khususnya terkait urusan birokrasi ataupun perizinan.

Selain itu, Presiden Jokowi juga menyebut agar para pejabat Negara maupun daerah bisa memafaatkan waktunya dengan baik. Karena menurutnya, komoditas yang paling berharga bukanlah emas melaikan waktu.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengumpulkan para menteri Kabinet Kerja di kantorya. Pertemuan tersebut adalah guna membahas libur Lebaran 2018.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Sindiran Pedas Presiden Jokowi: Tolong Tinggalkan Cara Kerja yang Muter-Muter

Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas). Dalam acara tersebut, Jokowi pun menyidir para pejabat negara di pusat dan daerah yang masih kerja dengan lambat, baik urusan birokrasi ataupun perizinan.

Menurut dia, sekarang ini banyak negara yang tengah berlomba memaksimalkan waktu yang ada. Pasalnya, dengan perkembangan teknologi waktu dianggap sebagai komoditas termahal dunia saat ini.

"Waktu jadi komoditas mahal, artinya musuh nomor satu kita adalah jangan buang-buang waktu. Ini tolong digarisbawahi. Apa itu? Ya cara kerja bertele-tele, buang-buang waktu. Gaya yang muter-muter itu tolong ditinggalkan," tegas Presiden, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (30/4/2018).

Menurut Jokowi, rantai birokrasi panjang sangat membuang waktu dan sudah kuno, rantai perizinan muter-muter itu juga sudah mesti ditinggalkan. Kemudian, rantai prosedur berbelit-belit itu juga sudah waktunya ditinggal.

"Karena masih banyak ini terjadi di pusat, provinsi, kabupaten, kota yang tadi masih banyak kejadian. Kalau mindset pola pikir, sikap masih seperti itu, ya sudah akan sulit maju kita," tuturnya.

Jokowi menerangkan, sekarang zaman sudah menuju revolusi industri 4.0. Pemerintah pun menyikapi hal tersebut dengan meluncurkan Making Indonesia 4.0.

"Saya berikan contoh. Ada sebuah mesin robot cetak rumah tinggal selama 24 jam dengan biaya sepertiga biaya konstruksi tradisional. Ini menggambarkan dunia sudah berubah masa kita berbelit-belit, mau jadi apa kita," tuturnya.

Oleh sebab itu, kata Jokowi, Indonesia juga harus bisa bergerak cepat dengan memaksimalkan potensi waktu yang ada. Hal tersebut dengan dukungan perkembangan teknologi.

"Sekarang bukan lagi eranya yang besar mengalahkan yg kecil, bukan yang kuat kalahkan lemah, tapi yang cepat kalahkan yang lambat, kuncinya ada di situ," tandasnya.

Presiden Jokowi: Bukan Emas, Komoditas Termahal di Dunia Adalah Waktu

Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) yang diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas)

Dalam arahannya, Kepala Negara memberitahukan bahwa komoditas termahal sekarang yang patut dimaksimalkan adalah waktu. Hal ini diutarakan di hadapan para menteri Kabinet Kerja, kepala lembaga-lembaga negara, para Gubernur, Bupati atau Walikota juga kepala Bappeda provinsi.

"Sekarang saya mau bertanya, apa komoditas paling mahal di dunia. Pasti banyak menjawab emas. Padahal bukan emas," ujarnya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (30/4/2018).

Ada fakta menarik dari komoditas apa saja yang termahal di dunia sekarang ini. Jokowi mengatakan, komoditas paling mahal sekarang adalah racun kalajengking sebesar USD10,5 juta per liter atau bila dirupiahkan senilai Rp145 miliar.

"Jadi Pak Gubernur, Walikota kalau mau kaya, cari saja racun kalajengking," gurau Presiden.

Komoditas super mahal di dunia adalah califoranium 252 atau zat kimia yang digunakan untuk eksplorasi migas seharga USD27 juta per gram atau sebesar Rp375 miliar per gram.

"Saya juga enggak ngerti barangnnya. Ini paling mahal. Tapi meskipun ada komoditas yang paling mahal di dunia seperti tadi, tapi paling mahal adalah waktu. Ini perlu digarisbawahi," tegasnya.

Dia pun mengibaratkan, 10 tahun merupakan waktu yang lewatnya begitu cepat. Begitu juga pada 30 tahun lalu, 1988, di mana ketika itu belum adanya handphone (HP). Semua orang jika mau telepon, mesti sampai ke kantor atau rumah lebih dulu.

Begitu juga surat, ketika dikirim harus sampai berminggu-minggu sebelum adanya mesin fax yang kemuculannya dianggap begitu revolusioner.

"Nah sekarang kita bicara sekarang hidup di era WA, twitter, Facebook, instagram. Irama hidup jadi cepat sekali, info cepat sekali. Dibandingkan dulu nelpon nunggu sampai di kantor, sekarang di mana pun kita langsung WA, dan update status Facebook, IG. Waktu lewat makin cepat," tuturnya.

Dengan perkembangan teknologi ini potensi produktivitas yang mengisi waktu semakin tinggi. Untuk itu, jika mampu memanfaatkan potensi ini, maka produktivitas harus dikerjakan dengan baik.

"Artinya dengan waktu lewat begitu cepat dengan teknologi informasi, begitu banyak yang bisa dicapai setiap menit, jam, hari, berati namanya waktu itu jadi komoditas mahal sekali kalau kita bisa memanfaatkan itu," tuturnya.

Libur Lebaran Dikaji Ulang, Menko PMK Kumpulkan Menteri Terkait

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengumpulkan para menteri Kabinet Kerja guna membahas soal libur Lebaran 2018.

Pantauan Okezone, Senin (30/4/2018), di Kantor Kemenko PMK. Telah hadir untuk mengikuti rapat tersebut, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri PANRB Asman Abnur dan Sekertaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto.

Rapat tersebut dimulai pada pukul 14.00 WIB. Namun dilangsungkan secara tertutup untuk para awak media.

Sebelumnya, pemerintah berencana mengkaji kembali mengenai penetapan libur lebaran 2018. Hal tersebut seiring banyaknya masukan yang diberikan kepada pemerintah dari seluruh elemen masyarakat.

Asal tahu saja, sebelumnya pemerintah sudah menetapkan libur lebaran idul Fitri 2018 menjadi 12 hari. Namun hal tersebut mendapatkan penolakan dari beberapa elemen masyarakat karena dinilai lebih banyak orang yang dirugikan.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur mengatakan, dalam rangka pengkajian kembali mengenai libur lebaran, piahknya akan melakukan rapat koordinasi lintas Menteri yang dipimpin oleh Menteri Pembangunananysia dan Kebudayaan (PMK).

"Belum diputuskan, tapi ini mau dirapatkoordinasi kan lagi. Jadi Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menpan-RB , rapatnya hari ini," ujarnya saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta

Nantinya lanjut Asman, dalam rapat tersebut akan di undang juga para pelaku usaha dan industri yang selama ini menyampaikan keberatannya dengan penetapan libur lebaran tersebut. Sehingga diharapkan, bisa mendapatkan jalan tengah terkait libur lebaran Idul Fitri.

"Ya ada pengusaha, industri, terutama industri dan eplaku usaha rapatnya direncanakan hari ini. Kita kan menerima masukan- masukan jadi berdasarkan masukan realisasinya seperti apa. Saya belum tau putusannya apa," jelasnya.

Oleh karena itu lanjut Asman, dirinya enggan berkomentar lebih lanjut terkait kemungkinan-kemungkinan libur lebaran akan dikurangi kembali menjadi sembilan hari. Dirinya hanya akan memberikan tanggapan setelah hasil dari rapat koordinasi tersebut benar-benar final.

"Saya gak bisa mengatakan kemungkinan (pengurangan libur lebaran) yang jelas akan ada rapat koordinasi lagi 3 menteri, yang dipimpin ibu PMK," ucapnya.

Namun yang pasti lanjut Asman, keputusan libur lebaran tersebut nantinya akan berlaku untuk pegawai negeri maupun swasta. Namun yang membedakan adalah aturan mengenai pemotongan cuti tahunan untuk libur lebaran. (gir)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya