JAKARTA - Starbucks berencana menutup 150 gerai di Amerika Serikat (AS). Imbasnya saham perusahaan jaringan kedai kopi global itu pun turun 3,5% pada saat pengumuman 19 Juni lalu.
Bahkan dua hari berikutnya saham Starbucks anjlok hingga 9%. Ini bukan berarti bisnis ke dai kopi menurun. Justru penikmat kopi semakin well educated. Dalam dua dekade terakhir Starbucks memang menjadi ikon populer bagi para pencinta kopi. Ekspansinya sejak pertengahan tahun 90-an ke luar AS begitu gencar.
Pasar pun menyambut antusias keberadaan gerai kopi modern yang didirikan oleh Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bow kerpada 1971 itu. Tahun ini tercatat ada sekitar 28.218 kedai kopi yang dikelola Starbucks di seluruh dunia. Jum lah yang sangat besar untuk ukuran perusahaan ritel yang core business-nya terfokus pada penjualan di luar kebutuhan pokok.
Rencana penutupan ratusan gerai kopi dari brand terkenal dengan produksi massal itu pun menyisakan tanya. Maklum, dalam beberapa bulan terakhir Starbucks diserang berbagai isu yang kurang mengenakan. Mulai dari perintah hakim pengadilan di Los Angeles yang meminta agar Starbucks mencantumkan label peringatan kanker pada kopi yang dijual hingga isu rasis terhadap pengguna toilet kulit hitam.
Namun, CEO Starbucks Kevin Johnson dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa performa perusahaannya saat ini disebut tidak merefleksikan potensi brand ke depan. “Kita harus bergerak cepat untuk memenuhi tuntutan perubahan dan kebutuhan pelanggan,” katanya, dikutip CNN .
Meski di AS bisnis Starbucks dihadapkan pada sejumlah tantangan, namun perusahaan itu meyakini pasar di luar Negeri Paman Sam masih besar. Berbicara kepada CNBC , Johson mengungkapkan rencana pembukaan 400 kedai baru pada 2019. Kebijakan itu akan dilakukan setiap tahun. “Tugas kita meyakinkan kalau target pasar tepat, geografis yang tepat untuk pembukaan kedai baru,” katanya.
Dia menegaskan, gerai kopi yang akan dibuka pun di fokuskan pada wilayah-wilayah baru. Lain Starbucks di AS, lain pula fenomena kehadiran kedai-kedai kopi di Tanah Air. Di kota-kota besar di Indonesia kini justru banyak bermunculan kedai kopi. Mulai dari gerai kopi franchise dari luar negeri hingga gerai kopi lokal yang menawarkan beragam kopi Nusantara.
Kemunculan gerai-gerai kopi ini tentu saja sangat menggembirakan karena mampu menciptakan pasar tersendiri yang imbasnya memberikan multiplier effect cukup luas. Tak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga melibatkan supplier terkait.
Wakil Ketua Umum Specialty Coffee Association Indonesia Karya Elly mengakui potensi konsumsi kopi di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Potensi yang besar ini berdampak besar terhadap banyak gerai kopi yang dibuka tidak hanya di kota-kota besar, namun juga di kabupaten dan kecamatan.
“Dan, gerai-gerai kopi tidak hanya menyasar kelas atas mau pun menengah, namun mulai menyasar semua kelas masyarakat Indonesia,” ujarnya di Jakarta.
Menurut dia, meski belum ada data pasti soal konsumsi kopi di Indonesia, namun diperkirakan pertumbuhan konsumsi kopi di dalam negeri bisa mencapai 10%-12% pertahun. Fakta itu terlihat dari menjamurnya gerai-gerai kopi di berbagai kota di Indonesia. “Coba perhatikan sekarang gerai kopi tidak hanya di kota besar. Bahkan sudah merambah ke kabupaten dan kecamatan,” ujarnya.
Tren ini, tambahnya, juga tak lepas dari promosi anak muda yang mulai gandrung terhadap kopi. Termasuk ada film yang khusus bertema kopi dan iklan-iklan di televisi. “Ini tentu menjadi tambahan semangat bagi roaster-roaster dan barista muda kita untuk terus memasyarakatkan kopi asli Indonesia yang di kenal dunia,” ungkapnya.
Dia menambahkan, persoalan kopi di Indonesia hanya terletak pada budidaya yang belum digarap serius. Sedangkan di Vietnam sudah dikenal sebagai produksi kopi robusta terbesar dunia. “Peran pemerintah sangat perlu di sini terutama menyediakan bibit-bibit kopi yang berkualitas,” pungkasnya.