Belajar dari Starbucks, Bisnis Kedai Kopi di RI Harus Berbenah

Koran SINDO, Jurnalis
Minggu 24 Juni 2018 12:37 WIB
Foto: Reuters
Share :

Pelajaran dari Starbucks

Pakar marketing Yuswohady berpendapat, secara perlahan pasar kopi di Indonesia akan terus bertumbuh dengan kemunculan gerai-gerai kopi lokal baru. Kondisi ini bahkan bisa terus berkembang dalam tiga hingga empat tahun ke depan seiring tren kopi sebagai gaya hidup.

“Bahkan bisa lebih besar kalau mau digarap serius. Mulai dari manajemennya, mengatur kualitasnya, hingga pada pengelolaan perkebunannya,” katanya.

Terkait rencana penutupan ratusan gerai kopi Starbucks di AS tahun depan, dia mengatakan bahwa setiap pasar yang sudah berada pada kondisi matang akan mengalami titik jenuh. Hal ini terjadi pada Starbucks yang menurutnya kini sudah mulai diganggu dengan kehadiran gerai kopi lain yang hadir dengan menawarkan cita rasa berbeda.

“Tentu dengan harga yang lebih murah. Jadi, sudah mulai kelihatan pasar atau market Starbucks sudah diambil oleh gerai kopi lokal,” sebutnya.

 

Sementara itu, pengamat makanan dan minuman Gupta Sitorus melihat apa yang dialami pada Starbucks di AS sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi. Menurutnya, di pasar negara lain seperti Australia, Starbucks mendapatkan tantangan berat karena budaya ngopi di Negeri Kanguru sudah terbentuk dengan sangat baik.

“Di Australia mereka (Starbucks) mengalami tantangan yang luar biasa. Pasalnya, di sana coffee shop artisan jumlahnya sangat banyak, khususnya di Melbourne dan Sydney. Dengan demikian, konsumennya sudah well educated, mengerti betul rasa kopi yang baik,” katanya.

Di sisi lain, kata dia, Starbucks secara persepsi justru mewakili kopi industrial yang di produksi secara massal sehingga seringkali persepsi massal itu diartikan sebagai less quality.

Di samping itu, strategi bisnis Starbucks yang ekspansif juga mendorong persepsi industrial tersebut. Dalam radius 1 kilometer misalnya bisa ada tiga gerai dari brand yang sama. Meski demikian, Gupta tidak memungkiri bahwa kehadiran Starbucks di Indonesia telah berhasil membangkitkan budaya ngopi atau kongkow. Menurutnya, Starbucks sangat berperan dalam membentuk ulang budaya kopi di negara ini.

“Saya sebut kata ‘ulang’ karena sebenarnya budaya kopi kita sudah sangat kuat. Budaya ngopi ini awalnya adalah budaya guyub. Bisa dibilang akar rumput kalau boleh. Nah, Starbucks ini berhasil menaikan derajat kopi menjadi gaya hidup,” ucapnya.

Menurut dia, sejak lama aktivitas ngopi secara tradisional dikenal sebagai alat untuk guyub, diskusi warung, silaturahmi, dan lain-lain. Namun, kehadiran Starbucks telah menjadikan alat untuk meraih status sosial tertentu di Indonesia. “Maka kini muncullah urban coffee culture baik di kotakota besar maupun kecil di Indonesia. Ini juga mengubah target demografis penikmat kopi,” katanya.

Dia menambahkan, jika dulu kopi diasosiasikan dengan orang tua atau bapak-bapak, tetapi sejak kopi dianggap sebagai lifestyle dan cara untuk meraih status sosial tertentu, target demografisnya jadi lebih muda dan meluas. Dia juga melihat saat ini gerai-gerai kopi lokal di Tanah Air telah berhasil “membentuk ulang” budaya kopi.

Fenomena ini kemudian ditangkap oleh generasi milenial dengan lebih berani mengeksplorasi budaya kopi Nusantara. “Tak heran jika banyak kedai kopi yang menyajikan kopi dengan cara yang lebih pop dan sesuai dengan generasi mereka,” ujar Gupta. (Andika Hendra/Ichsan Amin/Yanto Kusdiantono)

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya