Indonesia Siaga I Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China

Koran SINDO, Jurnalis
Sabtu 07 Juli 2018 10:11 WIB
Ilustrasi: Foto Koran Sindo
Share :

Selain itu, dia ingin fokus pada kesepakatan perdagangan bilateral yang adil sehingga bisa menghadirkan banyak lapangan kerja dan menghidupkan kembali industri AS. Hingga 1 Maret 2018, Trump mengumumkan keinginan memberlakukan 25% tarif untuk impor baja dan 10% untuk alumunium. “Perang da gang itu bagi dan mudah untuk menenangkannya,” kata Trump.

Alih-alih bertekuk lutut dengan ancaman tersebut, China malah menuding Washington memicu “perang dagang berskala besar”. Negeri Tirai Bambu tersebut melalui Kementerian Perdagangan China, bahkan bersiap membalas dengan memberlakukan 25% tarif terhadap produk AS seperti mobil, kedelai, dan lobster.

“Kita bisa mengatakan perang dagang secara resmi dimulai,” kata profesor aplikasi ekonomi Universitas Jiaotong Shanghai, Chen Feixiang, dilansir Reuters. “Jika ini berakhir pada USD34 miliar, itu akan berdampak marginal pada ekonomi kedua negara; tapi jika naik hingga USD500 miliar seperti dikatakan Trump, itu akan ber- dampak besar bagi kedua negara,” papar Chen.

China mengingatkan, dalam jangka panjang, perang dagang itu akan menjadi tekanan besar terhadap perdagangan global, investasi, dan pertumbuhan. Itu juga akan merusak para petani AS yang kehilangan pendapatan karena terganggunya ekspor kapas, kedelai, dan tepung, sedangkan di China itu berpotensi menaikkan harga makanan.

“Perang dagang bukan solusi,” ujar Perdana Menteri China Li Keqiang saat bertemu dengan PM Bulgaria Boyko Borissov di Sofia sebelum konferensi dengan negara Eropa Timur. “China tidak akan pernah memulai perang dagang; tapi jika ada pihak meningkatkan tarif, China akan membalas utuk melindungi kepen tingan bisnis,” katanya. Hingga kemarin, belum ada negosiasi baru antara pejabat AS dan China.

Dalam catatan Bank of America, Merrill Lynch menyatakan prediksi adanya eskalasi skala menengah pada perang dagang musim panas kali ini. “Kita tidak bisa membeberkan tekanan penuh, termasuk dampak resesi akibat perang dagang,” demikian laporan mereka. Ketegangan perang dagang mengacaukan pasar keuangan, termasuk saham, mata uang, dan komoditas perdagangan khu susnya kedelai hingga batu bara pada beberapa pekan terakhir.

Mata uang yuan terus melemah terhadap dolar. Saham di pasar China juga terus bergejolak karena perang dagang. “Ini bukan kiamat ekonomi. Kita tidak akan memburu makanan kita dengan tongkat,” kata ekonomi di ING, Rob Carnell.

Adapun analisis Pictet Asset Management menyebutkan, sejumlah negara akan terkena dampak ekonomi terhadap eskalasi perang dagang. Luksemburg, Taiwan, Republik Slovakia, Hungaria, dan Republik Ceko merupakan ne gara yang paling rawan dalam perang dagang tersebut. (Andika Hendra/Heru Febrianto/Oktiani Endarwati)

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya