Hampir sebagian besar penjualan Kylie Cosmetics datang dari akun media sosial (medsos) miliknya. Cuma dari akun medsos? Nanti dulu, follower Kylie sudah menembus angka 111 juta orang di Instagram (77% di antaranya berusia 18-24 tahun), dan 25 juta pengikut di Twitter .
Angka penjualan malah makin tinggi manakala Kylie mencantumkan FOMO (awas kehabisan) yang merujuk pada persediaan yang amat terbatas. Tidak mengherankan, hanya dalam waktu satu menit, lip kits (paduan lipstik dan lip liner ) produksinya ludes tidak bersisa.
Untuk itu, Kylie amat berterima kasih pada kehadiran media sosial. “Media sosial adalah platform yang luar biasa, saya menjadi mudah mengakses fans dan pelanggan,” ujarnya. Menariknya, bisnis yang dia geluti itu nyaris seluruhnya outsourcing .
Memang idenya dari Kylie, tetapi produknya dibuat Seed Beauty yang juga membuat make up untuk KKW Beauty yang dijalankan kakak tirinya, Kim Kardashian West. Lebih dari 500 orang di Seed Beauty juga memiliki perusahaan Spatz Laboratories, bekerja untuk brand Jenner dan Kardashian.
Pada 2016, Spatz pernah dituntut L’Oréal atas tuduhan menggunakan paten LíOreal dalam membuat kreasi produk untuk Kylie Cosmetics. Kylie bersikukuh tidak membuat produk tersebut maupun menjualnya secara langsung.
Permintaan dan penjualan Kylie Cosmetics berasal dari Shopify, perusahaan online asal Kanada yang juga menjalankan bisnis online untuk selebritas, seperti Drake dan Justin Bieber. Kylie juga tidak perlu banyak khawatir dengan keuangan perusahaannya atau memanajeri 12 stafnya (7 full time , 5 paruh waktu).
Semuanya sudah diurus momager (ibu sekaligus manajernya), Kris Jenner, yang juga mengurus semua operasi keuangan anak-anaknya dengan bagian 10% untuk keuntungan sang manajer.
“Mungkin suatu saat aku akan mewariskan bisnisku ini pada Stormi jika dia mau,” ucap Kylie. Kita lihat saja apakah dalam beberapa tahun ke depan dia bisa menggenapkan kekayaannya menjadi USD1 triliun.
(Sri Noviarni)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)