Sekadar proses menjalankan komputer juga membutuhkan banyak energi. Untungnya lagi, Islandia punya suplai energi yang hampir tak terbatas di bawah tanahnya.
Negara kecil itu memiliki sejumlah pembangkit listrik tenaga panas bumi yang memanfaatkan uap dari air super-panas alami untuk menjalankan turbin dan menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan biaya murah.
"Pada akhir tahun ini, pusat data di Islandia akan menggunakan lebih banyak listrik dari semua rumah di Islandia," kata Johann Sigurbergsson dari perusahaan energi geotermal HS Orka.
Image caption Pabrik Bitcoin 'Genesis Farming' yang terletak di dekat kota Reykjavik ini merupakan contoh bisnis mata uang virtual yang marak di Islandia.
Ini berarti bahwa, sejauh ini, tambang mata uang digital tidak menimbulkan banyak masalah bagi Islandia, negara yang mendapatkan 100% pasokan energinya dari sumber terbarukan.
Tapi di Plattsburgh, New York, ceritanya lain. Keberadaan tambang menciptakan begitu banyak tekanan finansial pada kota sehingga walikotanya mengumumkan pelarangan sementara untuk tambang mata uang virtual.
"Saat ini, mereka telah menggunakan 15 sampai 25% listrik di kota kami setiap hari. Dan tidak hanya menyedot energi yang besar, tapi juga terdapat sejumlah konsekuensi tidak diinginkan yang tidak pernah diatasi," kata walikota Plattsburgh Colin Read, yang menambahkan bahwa komputer juga menghasilkan banyak panas dan polusi suara.
Bagi Plattsburgh, kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya. Karena tambang mata uang virtual pada dasarnya berjalan secara otomatis, ia hanya perlu sedikit pegawai. Juga, karena sifat bisnis mata uang virtual yang tak abadi, perusahaan cenderung menyewa fasilitas daripada membeli aset, jadi kota tidak mendapat untung dari pajak properti.
"Saya suka mata uang virtual," kata Read, tapi Plattsburgh harus menemukan cara mengatasi masalah terkait penambangan mata uang virtual yang tengah dihadapinya sebelum menghentikan pelarangan dan kembali menyambut para penambang di kota itu.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)